Tuesday, December 27, 2011

A letter from Mom and Dad

My child,
When I get old, I hope you understand and have patience with me
In case I break a plate or spill soup on the table because I’m loosing my eyesight,
I hope you don’t yell at me
Older people are sensitive, always having selfpity when you yell
When my hearing gets worse and I can’t hear what you’re saying,
I hope you don’t call me “Deaf!”
Please repeat what you said or write it down
I’m sorry my Child… I’m getting older
When my knees get weaker, I hope you have the patience to help me get up
Like how I used to help you while you were little, learning how to walk,
Please bear with me
When I keep repeating my self like a broken record, I hope you just keep listening to me
Please don’t make fun of me, get sick of listening to me
Do you remember when you were little and you wanted a balloon?
You repeated yourself over and over until you got what you wanted
…. Please also pardon my smell, I smell like an old person
Please don’t force me to shower, my body is weak
Old people get sick easily when they’re cold. I hope I don’t gross you out
Do you remember when you were little? I used to chase you around because you didn’t want to shower
I hope you can be patient with me
When I’m always cranky, It’s all part of getting old. You’ll understand when you’re older
And if you have spare time, I hope we can talk even for a few minutes
I’m always all by my self all the time and have no one to talk to
I know you’re busy with work
Even if you’re not interested in my stories, please have time for me
Do you remember when you were little?
I used to listen to your stories about you teddy bear
When the time comes and I get ill and bedridden
I hope you have the patience to take care of me
I’M SORRY, if I accidentally wet the bed or make a mess
I hope you have the patience to take care of me durng the last few moments of my life
I’m not going to last much longer, anyway
When the time of my death comes, I hope you hold my hand and give me the strength to face death
And don’t worry..
When I finally meet our Creator..
I will whisper in His ear to BLESS you
Because you loved your Mom and Dad
Thank you so much for your care
We love you,

With much love


Mom and Dad


videonya: http://www.youtube.com/watch?v=mjR8gYy7yOY&feature=share

Saturday, December 3, 2011

Dalam Dekapan Ukhuwah

backsound: instrumen richard clayderman

karena beda antara kau dan aku sering jadi sengketa
karena kehormatan diri sering kita tinggikan di atas kebenaran
karena satu kesalahanmu padaku seolah menghapus ejuta kebaikan yang lalu
wasiat Sang Nabi itu rasanya berat sekali:
"jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara"

mungkin lebih baik kita berpisah sementara, sejenak asja
menjadi kepompong dan menyendiri
berdiri malam-malam, bersujud dalam-dalam
bertafakkur bersama ima yang menerangi hati
hingga tiba waktunya menjadi kupu-kupu yang terbang menari
melantun kebaikan di antara bunga, menebar keindahan pada dunia

lalu dengan rindu kita kembali ke dalam dekapan ukhuwah
mengambil cinta dari langit dan menebarkannya di bumi
dengan persaudaraan suci; sebening prasangka, selembut nuran, sehangat semangat, senikmat berbagi dan sekokoh janji
-cover belakang-



"... Dan Allah yang mempersatukan hati para hamba beriman. Jikapun kau nakahkan perbendaharaan bumi seluruhnya untuk mengikat hari mereka, takkan bisa kau himpunkan hati mereka. Tetapi Allah-lah yang telah menyatupadukan mereka" (QS Al- Anfal: 63)
-hlm 15-



persaudaraan adalah mukjizat, wadah yang saling berikatan
dengannya Allah persatukan hati-hati berserakan
saling bersaudara, saling merendah lagi memahami
saling mencintai dan saling berlembut hati
-Sayyid Quthb-
-hlm 60-




Demikianlah. Mereka yang terhubung ke langit, terhubung dengan manusia dalam kata cinta yang berwujud da'wah. "Da'wah adalah cinta," kata Syaikhut Tarbiyah Rahmat Abdullah. Dan dalam dekapan ukhuwah, cinta akan meminta semuanya dari dirimu. Sampai pikiranmu. Sampai perhatianmu. Berjalan, dudk dan tidurmu. Bahkan di tengah lelapmu, isi mimpimu pun tentang da'wah. Tentang ummat yang kau cintai.
-hlm 73-



"Alangkah indahnya," begitu Ibnu Sirin memulai cerita, "Kisah dua orang bersaudara di jalan Allah yang pada mulanya saling mencintai. Lalu hubungan di antara mereka terganggu.
Satu waktu mereka bertemu, "Mengapa kiranya," tanya lelaki pertama, "Hari-hari ini aku melihatmu seolah engkau berpaling dan menjauhiku?"
"Telah sampai padaku," jawab orang yang kedua, "Sesuatu tentang dirimu. Dan engkau pasti tak menyukainya"
"Kalau begitu, aku tak peduli," lelaki pertama itu tersenyum.
"Mengapa?"
"Karena jika apa yang engkau dengar itu adalah benar sebuah kesalahan yang telah aku lakukan, aku tahu engkau pasti akan memaafkannya. Dan jika berita itu tidak benar, engkau pasti tidak akan menerimanya"
"Setelah itu," kata Ibunu Sirin menutup kisah, "Mereka kembali pada ukhuwah yang indah."
-hlm 79-



Dalam hubungan-hubungan yang kita jalin di kehidupan,
setiap orang adalah guru bagi kita.

Ya, setiap orang. Siapapun mereka. Yang baik, juga yang jahat. Betapapun apa yang mereka berikan pada kita selama ini hanyalah luka, rasa sakit, kepedihan, dan aniaya, mereka tetaplah guru-guru kita. Bukan karena mereka orang-orang yang bijaksana. Melainkan karena kitalah yang sedang belajar untuk menjadi bijaksana.

Mereka mungkin tanah gersang. Dan kitalah murid yang belajar untuk menjadi bijaksana. Kita belajar untuk menjadi embun pada paginya, awan teduh bagi siangnya, dan rembulan yang menghias malamnya.

Tetapi barangkali, kita justru adalah tanah yang paling gersang. Lebih gersang dari sawah yang kerontang. Lebih cengkar dari lahan kering di kemarau yang panjang. Lebih tandus dari padang rumput yang terbakar dan hangus. Maka bagi kita sang tanah gersang, selalu ada kesempatan menjadi murid yang bijaksana.

Seperti matahari yang tak hendak dekat-dekat bumi karena khawatir nyalanya bisa memusnahkan kehidupan. Seperti gunung api yang lahar panasnya kelak menjelma lahan subur, sejuk menghijau berwujud hutan.

Dan seperti batu cadas yang memberi kesempatan lumut untuk tumbuh di permukaannya. Dia izinkan sang lumut menghancurkan tubuhnya, melembutkan kekerasannya. Demi terciptanya butir-butir tanah. Demi tersedianya unsur hara agar pepohonan berbuah.
-hlm 82-



semua orang yang ada dalam hidup kita
masing-masingnya, bahkan yang paling menyakiti kita
diminta untuk ada di sana
agar cahaya kita dapat menerangi jalan mereka
-hlm 83-



Dalam dekapan ukhuwah, kita menginsyai bahwa diri kita adalah orang yang paling memungkinkan untuk diubah agar segala hubungan menjadi indah. Kita sadar bahwa diri kitalah yang ada dalam genggaman untuk diperbaiki dandibenahi. Kita mafhum, bahwa jiwa kitalah yang harus dijelitakan agar segala bayang-bayang yang menghuni para cermin menjadi memesona. Dalam dekapan ukhuwah, biarkan sesama peyakin sejati sekedar memantulkan kembali keelokan akhlak yang kita hadirkan.
Dalam dekapan ukhuwah, segalanya adalah cermin.
-hlm 91-


menghadapi orang sulit selalu merupakan masalah
terutama jika orang sulit itu adalah diri kita sendiri
jika kita merasa bahwa semua orang memiliki masalah dengan kita,
tidakkah kita curiga bahwa diri kita inilah masalahnya?
-hlm 143-



Kau mengatakan,
"Dalam tiap takdir kesalahanmu padaku,
Aku senantiasa berharap takdir kemaafanku
mengiringinya."

Kujawab lirih, "Dalam takdir kejatuhanmu, Semoga tertakdir pula uluran tanganku."

Maka kita pun bersenandung,
"Dalam takdir ukhuwah kita,
Semoga terbangun kokoh menara cahaya,
tempat kita bercengkerama
Kelak di surga".
-hlm 165-




Dalam dekapan ukhuwah, Allah akan menganugerahkan kepada kita sahabat-sahabat yang kadang lebih mampu menilai kita daripada diri kita sendiri. Secara pribadi, kadang kita memang bias dan tidak jujur dalam mengenali diri. Kita menilai diri sendiri berdasar apa yang bisa kita perbuat. Orang lain menilainya sesuai dengan apa yang telah kita lakukan.
-hlm215-



Dalam dekapan ukhuwah, kepedulian yang terlembut bukanlah sekedar rasa ingin tahu. Kepedulian yang terlembut kadang tampil dalam bentuk kesadaran bahwa mungkin kita belum perlu tahu sampai tibanya suatu waktu. Maka kesabaran akan menuntun kita untuk tahu, di saat yang paling tepat, dengan cara yang paling indah.
-hlm 241-



Rasulullah bersabda dalam riwayat Al Bukhari, Abu Dawud, Ibnu Hibban, dan Al Hakim, "Tidaklah dua orang saling mencintai karena Allah, kecuali yang paling besar cintanya di antara keduanya adalah yang lebih mulia" atau dalam redaksi Ath Thabrani, "Tiadalah dua sahabat saling mencintai karena Allah, ketika mereka berjauhan, kecuali yang lebih besar cintanya kepada saudaranya adalah yang lebih dicintai oleh Allah."
-hlm 243-



dalam dekapan ukhuwah
kita merasakan kehangatan sahabat

dia tahu kelemahan kita,
tetapi menunjukkan kekuatan kita

dia merasakan ketakutan kita,
tetapi membangkitkan keyakinan kita

dia melihat kekhawatiran kita,
tetapi membebaskan jiwa kita

dia mengenal ketidakmampuan kita,
tetapi memberi kita kesempatan

-hlm 333-



Dalam dekapan ukhuwah, ujian sejati hubungan, bukan hanya seberapa setia diri kita kepada para sahabat di kala mereka diterpa kegagalan. Ia juga ditunjukkan pada seberapa antusias kita merayakan keberhasilan-keberhasilan mereka.

Maka dalam dekapan ukhuwah, saatnya merayakan keberhasilan atau hal kecil apapun bersama orang-orang yang kita cintai. Mereka ada di sini tak hanya untuk berbagi duka, namun juga bahagia.

Dalam dekapan ukhuwah, Ibnu 'Abbas mengajari kita makna perayaan ukhuwah. Hargailah setiap kebermaknaan kecil yang dirasakan oleh orang lain, meski bagi kita itu adalah perkara yang kurang berarti. Itulah akhlak keulamaan.

Jadilah 'panitia' bagi tiap perayaan kebajikan dalam dekapan ukhuwah.
-hlm 392-394-



sesungguhnya lubang jarum takkan terlalu sempit
bagi dua orang yang saling mencintai
adapun bumi, takkan cukup luas
bagi dua orang yang saling membenci
-Al Khalil ibn Ahmad-
-hlm 397-




Dalam dekapan ukhuwah, mari mentakjubi kisah-kisah orang yang tulus hati. Mereka berbahagia ketika mampu memberikan kemanfaatan kepada sesama. Mereka yang merasa bangga bisa menjadi bagian dari kebahagiaan orang lain. Mereka telah merasakan nikmatnya berbagi
selalu ada yang menakjubkan soal nikmatnya berbagi...
-hlm 399-401-



saudara seiman itu adalah dirimu
hanya saja dia itu orang lain
sebab kalian saling percaya
maka kalian adalah satu jiwa
hanya saja kini sedang hinggap di jasad yang berbeda
-Al Kindi-
-hlm 410-




Dalam dekapan ukhuwah, rasa saling percaya adalah juga puncak tertinggi kualitas hubungan. "Dipercaya," kata penulis George MacDonald, "Adalah satu penghargaan yang lebih tinggi dari sekedar dicintai. Sebab kepercayaan adalah penanda puncak bagi segala hubungan yang memungkinkan di antara para insan."
-hlm 417-

Saturday, November 26, 2011

14 Mei 2011 (part 2)

Sehari sebelum pulang



13 mei 2011



Sekarang jam 23.40.



Hari ini sebelum tidur saya punya beberapa tugas yang harus dikerjakan.

Bikin tulisan
LI (learning issue) tentang fisiologi bladder utk tutorial
Saya belum tilawah.

Saya ga tau apakah sekarang saya capek atau ga.

Seharusnya saya capek. Karena saya menangis banyak sekali hari ini.

Banyak juga yang terjadi sepanjang hari ini.

Banyak yang berkecamuk di pikiran saya yang ingin saya ceritakan.

Saya pikir tidak cukup menceritakan semuanya dalam waktu 20 menit. Mungkin saya akan menghabiskan beberapa jam.

Gapapa sebenarnya. Cuma besok saya mungkin kesiangan subuh (lagi), telat datang skilab, pusing saat kuliah, dll.

Yasudahlah. Dijalani aja dulu.

Mulai.

Hari ini saya bangun kesiangan.

Seingat saya pas saya bangun kamar saya udah terang. Tapi ga ingat persisnya jam berapa. Karena merasa bangun kesiangan, dan merasa mengabaikan jam beker saya, saya menyesal dan justru tidur lagi.

Akhirnya saya baru bangkit jam setengah delapan dan sholat subuh. =(

Saya ingat hari ini ada janji ketemu mba sari. Tapi saya masih punya cucian yang belum dibilas. Saya berpikir harus menyelesaikan cucian itu dan menjemurnya sebelum pergi ketemu mba sari. Sebisanya.

Singkat cerita, saya bisa menyelesaikan cucian itu dan datang ke psikologi tepat waktu (tapi harus naik ojek). Namun karena mba sari sms kalo mba sari nyampe psikologi jam stengah 10, saya jadi agak nyantai. Ga jadi naik ojek, tapi naik angkot. Sempat ke ATM dulu.

Tadi pagi waktu saya kecewa bangun kesiangan, saya mengeluh, aduh, kenapa bangun kesiangan lagi? Yah, meski semalam saya tidur jam 2, tapi sebelum tidur saya melakukan “protective mechanism” yaitu dengan tilawah dan membaca surat al mulk sebelum tidur. Cuci muka, sikat gigi, wudhu, bahkan sebelum tidur dengan sadar menyempatkan diri membaca ayat kursi. Harusnya saya tidak “ditindih” setan sehingga saya kesiangan sampai sesiang ini.

Yasudahlah.

Saya pun ketemu mba Sari.

Saya agak sulit menceritakan detail bagaimana saya dengan mba Sari.

Awalnya saya mengkondisikan diri saya tenang. Lalu saya bercerita. Mba Sari memberikan feedback. Sesekali saya menangis saat mendengar penjelasan mba Sari.

Satu hal yang saya tangkap dari perbincangan itu, bahwa saya memang sangat rumit orangnya. Masalah saya sekarang pun terlalu rumit di pi kiran saya. Ah, mungkin saya saja yang bikin rumit.

Mba Sari bilang, dengan kondisi saya saat ini saya memang butuh psikolog.

Saya berpikir saya harus menyiapkan sejumlah uang. Jadi sekarang saya harus bilang kepada keluarga saya terus terang beginilah keadaan saya, saya butuh psikolog dan butuh biaya untuk itu.

Waktu ketemu mba Sari saya dapat pencerahan. Namun, pas pulang tetap saja saya menangis. Saya sulit mengatakan saya menangisi apa.

Dalam perjalanan pulang, yang saya pikirkan adalah, habis ini saya harus nelpon keluarga memberitahukan bahwa saya butuh psikolog dan uang. Selain itu, satu2nya yang saya rasakan, saya capek, pikiran saya mumet dan saya butuh istirahat.

Sampai di kamar, sekitar setengah sebelas lebih saya langsung berbaring. Kalau mau tidur masih ada 2 jam sebelum kuliah jam 1. Tapi waktu berbaring tetap saja saya pusing dan tidak bisa tidur. Lalu saya sholat dua rakaat.

Ternyata wudhu lumayan menyegarkan saya (yang tadi rasanya panas ga jelas). Mungkin sekarang bisa tidur lebih nyaman, pikir saya.

Saya coba lagi tidur, tapi tidak bisa. Lalu hp saya bunyi, ada sms. Saya buka sms dan saya ingat bahwa saya harus menelepon.

Orang pertama yang mau saya kabari adalah Ni Lah, kakak sulung saya. Disconnected, katanya.

Lalu, saya menelepon Mak Cik, bibi saya (adik ibu), dia tidak mengangkat.

Akhirnya saya telepon da Lim, kakak laki-laki saya, anak nomor empat.

Entah kenapa, pada detik pertama dia mengangkat telepon dan menyapa “halo” saya menangis.

Saya menangis hingga tidak bisa bersuara. Dengan susah payah saya sapa da Lim.

Kira-kira dialognya begini (seingat saya):

Da lim: ada apa?

Saya: (terisak-isak) lalu menjawab, “saya sedang susah”

Lalu menangis lagi beberapa lama tanpa bisa berkata apa-apa. Makin ditanya makin menangis.

Da lim: ada masalah apa?

Saya: ga ada

Da lim: lalu?

Menangis lagi.

Da lim: sekarang kamu dimana?

Saya: di kosan

Da lim: hari ini ada kuliah?

Saya: ada, jam 1

Setelah berhasil mengontrol diri, saya ceritakan

Saya: tadi saya habis dari psikologi ketemu dosen psikologi unpad, saya menceritakan masalah saya, beliau menyimpulkan saya harus ketemu psikolog. Mungkin 2 minggu lagi saya ketemu psikolog. Dan minggu-minggu berikutnya setelah ketemu psikolog, saya akan butuh uang.

Tapi saya ga punya uang (yang ini sambil menangis lagi).

Saya Cuma ngasih tau itu aja, bahwa saya butuh uang beberapa minggu ke depan di luar bulanan saya yang biasa. Tapi masalahnya sekarang saya harus memberitahu ini ke Umi (panggilan saya ke ibu), saya ga tau apa Umi bisa menerima atau tidak. Tapi saya harap bisa menerima.

Da lim: uda boleh tau ga apa masalahnya?

Saya: ga ada. (lalu menangis lagi)

Akhirnya menjawab

Saya: saya punya masalah yang complicated. Masalah kuliah, skripsi, masalah dengan orang lain. Masalah saya tidak bisa berkomunikasi dengan orang lain…

Da lim: komunikasi dengan orang lain? Selama ini komunikasi kamu baik-baik aja kok menurut uda.

Ini m alah bikin saya tambah nangis. Benarkah? Benarkah selama ini saya adalah seorang komunikator yang baik? Lalu kenapa saya bermasalah seperti ini sekarang? Siapa sebenarnya yang salah? Apakah semata-mata saya, atau karena kekurangan teman saya sehingga saya merasa tidak bisa berkomunikasi?



....sejak saat itu tulisan ini tidak pernah disambung lagi

Thursday, November 10, 2011

Menyambut Kematian

Jika kita mengetahui waktu kematian kita semakin dekat seharusnya kita lebih semangat bekerja bukan?
Menjadi orang muda seringkali membuat kita lupa bahwa kematian semakin dekat. Kita sering berpikir, sepertinya kita masih punya banyak waktu di dunia. Kalau sekarang umur 20 tahun, setidaknya adalah sekitar 40 tahun-an lagi.

Meskipun terdengar klise dan retoris, yang jelas kematian itu cepat atau lambat akan datang.
Kalau bukan kematian kita, setidaknya kematian orang-orang terdekat kita.

Untuk orang muda, mungkin kematian masih jauh ya, bagaimana dengan orang tua?

Sekarang umur saya 22 tahun.
Umur umi 56 tahun.
Umur ayah 59 tahun (bulan depan)

Saya tergolong muda dari segi usia. Ayah dan ibu saya sudah tua. Mungkin saya masih punya umur beberapa puluh tahun lagi. Menyadari hal ini, secara tidak sadar saya atau orang-orang seumuran saya menganggap kematian itu masih lama sehingga tidak serius menyambutnya.

Coba situasinya diubah.
Misalnya umur saya sekarang sama seperti umur ayah saya. 59 tahun.
Apa yang saya pikirkan pada umur 59 tahun ini?
Yang jelas, kecil kemungkinan saya akan bertahan hidup beberapa puluh tahun lagi. Kemungkinan hidup saya kira-kira beberapa tahun lagi. Satu tahun lagi saya 60. Mungkin sisa umur saya kurang dari sepuluh tahun lagi. Apa yang saya persiapkan?
Jawabannya: karena waktu saya sudah berlalu 59 tahun, dipotong masa sebelum akil baligh, katakanlah 14 tahun, maka umur saya berbuat dosa kira-kira selama 45 tahun.

Sekarang saya hanya punya beberapa tahun ke depan sebelum menyongsong kematian. Tentu goal utama adalah bagaimana caranya saya bisa melalui kematian ini dengan mudah. Goal selanjutnya bagaiamana caranya timbangan pahala saya di akhirat nanti lebih berat daripada timbangan dosa.

Yang harus saya lakukan adalah: memanfaatkan waktu yang tersisa ini sebaik-baiknya untuk beramal.
Saya juga harus berusaha untuk memanfaatkan momen2 ibadah yang pahalanya besar. Harapannya agar dosa selama 45 tahun ke belakang bisa tertutupi. Intinya, balik lagi ke kalimat awal: semangat bekerja.

Kematian itu niscaya, bukan?

Mari kita balikkan lagi situasinya ke awal. Saya, 22 tahun mempunyai ayah yang berumur 59 tahun yang mungkin punya sisa hidup beberapa tahun lagi. Apa yang saya persiapkan?
Mau tidak mau, sadar tidak sadar saya harus bersiap.

Goal 1: bagaimana caranya ayah saya pergi dengan tersenyum.
Harapannya saat ayah saya pergi tidak ada yang dia sesali tentang saya.
Konsepnya saya ingin melakukan sesuatu yang bermakna untuk ayah saya.
Beberapa diantaranya:
-wisuda
-jadi lulusan terbaik pas koas
-membuatkan ayah rumah
-membelikan ayah sebuah kamar di apartemen
-membiayai ayah naik haji
-membawa ayah jalan-jalan ke luar negeri tempat sisa-sisa peradaban Islam. Turki misalnya

diantara 6 opsi tersebut semua butuh waktu dan proses yang panjang. Yang paling dekat adalah wisuda. Lalu bagaiamana kalau waktu ayah saya lebih awal daripada itu? apa yang bisa saya lakukan?

Ada dua hal sederhana tapi bermakna yang saya kira bisa saya mulai segera dan bisa dilihat hasilnya dalam waktu singkat
1. Membuat al-quran tulisan tangan
2. Menelepon ayah sesering mungkin
3. Berbuat baik terus menerus. Dalam hal apa saja.
4. Mendoakan ayah setiap saat.

Ya, itu yang bisa saya lakukan.

Kematian itu dapat datang kapan saja. Mungkin bulan depan, minggu depan atau bahkan besok. Dalam ketidakpastian, seharusnya kita bekerja lebih semangat bukan?

Saturday, November 5, 2011

Orientasi dan Niat

“Kalau antum meniatkan pernikahan itu sebagai ibadah, maka antum gak akan masalah walau pun menikah bukan dengan Nita. Karena fokus ibadahnya bukan pada menikahi Nita, tapi pada menikahnya itu sendiri. Keikhlasan antum menikah karena Allah itu diuji saat antum gagal menikah dengan Nita. Kalau antum ikhlas, maka antum gak akan kecewa karena masih banyak kesempatan. Tapi kalau antum kecewa berat, maka niat antum adalah cuma mau menyenangkan diri dengan menikah dengan Nita, bukan sebagai penghambaan kepada Allah. Begitu Hep.”Tautan

kata-kata tersebut saya dapatkan dari sebuah cerpen di web islamedia. Kalau ada yang mau baca ini link-nya: Jodohku di Tangan Pembinaku

ceritanya lebih kurang begini, seorang laki-laki bernama Hepi jatuh cinta dan berniat menikah. Dia mempersiapkan segalanya untuk menikah terutama finansial. Akhirnya dia benar-benar siap dan tinggal mengutarakan niat tersebut kepada murobbi-nya untuk memfasilitasi ta'arufnya dengan perempuan yang dia cintai tersebut. Namun, sayang beribu sayang, perempuan yang dia dambakan sudah dilamar oleh murobbinya sendiri. Kutipan di atas adalah kata-kata sahabatnya.

membaca kutipan tersebut, saya ingat tweet saya sebulan yang lalu

"jika orientasinya adalah Allah, siapapun orangnya tidak masalah kan? yang penting orientasi sama *tapi hati masih berat >.<"

Saya paham betul dengan paragraf tersebut dan apa yang saya tulis di tweet saya. Ya, saya sangat paham.
Tapi... (ada tapi lagi..harusnya mah ga usah pake tapi)

tapi masih berat rasanya buat saya. Ah, entahlah. Pengennya orientasi Allah dan dikasih yang saya inginkan. Tapi saya jadi kabur membedakan mana yang benar-benar niat dan mana yang "mau menyenangkan diri sendiri" seperti kutipan di atas.

Dua hal yang jadi pertanyaan besar bagi saya dan terkadang agak menyiksa karena saking penasarannya adalah umur berapa saya menikah dan dengan siapa.
Seringkali saya menghubungkan beberapa event dalam hidup saya dengan jodoh. Berusaha meraba-raba atau menebak orang yang sudah ditetapkan Allah sebagai jodoh saya.

Dua hal itu kadang bikin galau. Galau parah.

Saya punya keinginan memang. Ya, lebih kurang seperti cerita di atas. Ingin menikah dengan si "X". Tapi kalau saya renungi lagi, apakah X tersebut adalah tujuan hidup saya? Bagaimana kalau Allah kasih saya yang lain, misalnya. Atau si X menikah dengan teman dekat saya sendiri. Akankah saya kecewa? Akankah saya menangis?

Jika memang saya menikah dengan X, lalu di dalam pernikahan saya menemukan sesuatu pada diri X yang mengecewakan saya sehingga menghapus semua rasa cinta yang saya punya sebelum menikah dengannya, siapkah saya dengan kehambaran hidup yang saya alami setelah itu? Karena secara tidak sadar X itu menjadi tujuan saya, dan jika tujuan itu mengecewakan, selesai sudah. Berakhir sampai di situ. Setelah itu hidup saya tidak akan nyaman lagi dengan orang tersebut.

Sekali lagi saya memahami betul pentingnya orientasi dalam hidup termasuk dalam hal orang yang akan kita nkahi.
Saya menerima prinsip itu dengan mudah pada saat hati saya sehat. Artinya saya sedang tidak dilanda perasaan merah jambu.
Tapi pada keadaan diri saya sedang sepsis, dimana virus merah jambu menggerogoti semua sel jantung saya, prinsip itu sangatlah berat seperti yang saya tulis di tweet saya sebulan yang lalu. Saat itu saya sedang sepsis.

Dan kembali saya menyadari bahwa pada dasarnya sifat manusia pengen instan. Pengen mendapatkan keinginannya secepat mungkin. Begitu halnya dengan saya. Pengennya menikah secepat saya menginginkannya dan pengennya dengan orang yang saya inginkan. Ketika Allah memberikan sesuatu di luar keinginan, rasanya untuk menerima hal tersebut harus menguras habis kesabaran. Padahal Allah punya alasan di balik itu. Hanya kita kurang sabar saja.

Semoga sampai kapanpun orientasi tetaplah Allah dan dikuatkan untuk orientasi tersebut. Siapapun orangnya tidak masalah (seharusnya)

Wallahualam bishawab.

Thursday, October 27, 2011

Pergi Jauh

insya Allah kalau masih dikasih hidup, 3 tahun ke depan rencana hidup saya stabil. Koas dan internship.
Setelah itu rencana hidup saya agak susah dipastikan. Meskipun saya berencana untuk PTT di Papua selama tiga tahun, tapi who knows apa yang akan terjadi kemudian. Bisa jadi something happen sehingga saya harus tetap di Padang, dsb.

Namun yang saya pikirkan hari ini dan beberapa hari yang lalu, (juga beberapa tahun yang lalu sebenarnya), dimanapun saya berada beberapa tahun mendatang, saya harao saya betul-betul jauh dari sesuatu. Ah, bukan, tepatnya seseorang.

Saya ingin jauh dari seseorang tersebut. Berkali-kali saya menginginkan untuk jauh dari orang tersebut, namun jujur saya akui, beberapa kali pula saya ingin sangat dekat dengan orang tersebut.
Saya bolak balik dari 'pengen jauh' dan 'pengen dekat' itu. Kedua hal tersebut sangatlah ekstrim, kalau tidak 'sangat jauh' haruslah 'sangat dekat'.
(Beberapa waktu ke depan, ga tau saya bakal bolak-balik hati berapa kali lagi), yang jelas saat ini saya menginginkan 'sangat jauh' dengan seseorang tersebut.

sangat jauh..
sangat jauh...

bisakah?

Saya tidak bisa menjawab.

ps: berkali-kali saya juga berpikir ingin 'menjauhkan diri' dan mengkondisikan hidup saya sedemikian rupa seakan-akan dalam dunia yang luas ini tidak ada orang tersebut. Ada satu rencana yang menyusup: sekolah di luar negeri dan bekerja di luar negeri dalam waktu yang sangat lama.

Saturday, October 22, 2011

Thursday, October 20, 2011

Medical Specialty aptitude test

Rank Specialty Score
1 otolaryngology 47
2 endocrinology 47
3 orthopaedic surgery 46
4 neurology 45
5 plastic surgery 45
6 rheumatology 45
7 pulmonology 45
8 infectious disease 45
9 colon & rectal surgery 45
10 hematology 44
11 pathology 44
12 thoracic surgery 44
13 general surgery 43
14 neurosurgery 43
15 ophthalmology 43
16 obstetrics/gynecology 43
17 radiation oncology 43
18 cardiology 43
19 nephrology 42
20 anesthesiology 42
21 allergy & immunology 42
22 urology 42
23 psychiatry 42
24 radiology 41
25 pediatrics 41
26 dermatology 41
27 med oncology 41
28 gastroenterology 40
29 physical med & rehabilitation 40
30 occupational med 39
31 aerospace med 39
32 nuclear med 39
33 general internal med 38
34 family practice 36
35 emergency med 36
36 preventive med 35

Monday, October 17, 2011

Bye Galau :p

"Galau"... adalah salah satu pembahasan di acara Mario Teguh The Golden Ways tadi malam. Saya sempat diledekin kakak saya karena ga nonton ini. Diledekin karena saya ga punya tivi di kosan, malah kakak saya nyuruh saya beli tivi. Hehee...

Anyway, saya ga rugi-rugi amat ga liat acara-nya Mario Teguh, karena di twitter banyak update-an dari beliau tentang quotesnya yang saya retweet. Ini dia:

"Ucapkanlah selamat tinggal kepada kegalauan karena kegalauan itu hanyalah sementara"

"Hanya pribadi yang ikhlas, yang akan tetap melakukan sesuatu yang baik, walau pun tidak diinginkannya"

"Orang yang galau orang yang butuh kasih sayang"

"Kalau lagi galau, jangan cari teman yang galau. Galau masal itu salah besar!"

"Galau itu cuma sementara tapi keberhasilan itu adalah hak"

"Setiap hal yg kita nikmati, mengandung akibat baik dari pengorbanan seseorang yg biasanya tidak kita kenal atau tidak kita sadari."

"dia yang bekerja keras, tidak memiliki banyak waktu untuk khawatir"

"Satu jam yang digunakan untuk merasa khawatir, lebih melelahkan daripada satu jam untuk bekerja keras."

"Jodoh ditangan Tuhan, tapi Tuhan hanya menggariskan bagaimana caranya, bukan siapa orangnya"

"Tetaplah setia kepada kerinduan hati Anda untuk menjadi pribadi yg damai, yg kuat, yg mapan, dan yg berkewenangan besar - semuda mungkin"

"Kadang masalah membuatmu mengerti siapa yang benar-benar menyayangimu, yang selalu ada di saat sulit sekalipun."

"Kegalauan adalah masa pindah dari sebuah keberhasilan menuju keberhasilan berikutnya."

"Syukurilah yang sudah ada pada diri Anda. Sesungguhnya, Anda bergerak maju dari kesyukuran Anda."


lebih kurang segitu tweet-nya yang saya retweet...

dan saya dengan bangga mengumukan, "HARI INI SAYA GA GALAU"
ahaha
karena hari ini adalah salah satu hari terbaik dibandingkan kemarin-kemarin. Hari ini saya alhamdulillah qiyamulail, subuh on time, shaum insya Allah, dan yang sangat membahagiakan adalaah.... saya mengerjakan tugas lab dengan benar! Dan hasilnya saya sangat menikmati lab act. Hohoho... habis lab act saya sumringah sekali. Bisa nyambung dengan semua yang dikatakan dosen, setiap katanya NYAMBUNG! Trus pretest post-test dapat saya kerjakan dengan baik, ga lirik catatan lagi..
hehe..

Alhamdulillah... :)


Bye bye, galau!

Saturday, October 15, 2011

Pengkhianat

I don't write this for the sake of 'negativity'. Meski yang saya tulis memang negatif dan (lagi-lagi) menyedihkan. Ini semata-mata untuk merekam jejak.

Ada dua orang pengkhianat dalam hidup saya lebih kurang 4 bulan terakhir. Teman yang berubah menjadi pengkhianat.

Satu cewe, satu lagi cowo. Saya pengen mengexplore karakter mereka di sini. Karena keduanya punya kemiripan karakter...

14 Mei 2011 (part 1)

"bila mungkin ada luka tersenyumlah, bila mungkin tawa bersabarlah
karna air mata yang tak abadi, akan hilang dan berganti" -opick-

hari ini hari sabtu. Tanggal 15 oktober 2011
Saya bangun sangat pagi hari ini. Bisa menikmati subuh yang bening itu, subhanallah banget.


Kenapa saya pagi ini menulis adalah, saya teringat pagi yang sama 5 bulan yang lalu. 14 Mei 2011.
Saat itu saya pulang...

Kepulangan saya sangat tiba-tiba.
Malam sebelumnya saya beli tiket pesawat, besok paginya saya pulang.

Ini adalah sekelumit ingatan saya tentang hari itu.

Jumat sore, pulang kuliah

"
Ijh insya Allah udah gapapa da lim, meskipun kalau ngikutin keinginan pasti ingin pulang, tapi kalau mikirin nasehat ni lah dan niamah, ijh ga tega pulang. Akhirnya ijh mutusin ga akan pulang, aja da lim"
"Yakin ga jadi pulang?"
"
yakin, demi menuruti kata ni amah dan ni lah"
"
berarti ijh harus konsekuen sama keputusan ijah, tau artinya konsekuen?"

saya menggeleng di seberang telepon.
"konsekuen berarti harus menanggung semua konsekuensi atas keputusan itu. Jangan mengambil keputusan atas saran orang lain karena yang akan menanggung konsekuensinya adalah ijah sendiri. Ambil keputusan sendiri"
Hati saya serta merta berubah
"Kalau gitu saya pulang, malam ini juga"
"oke, cek ATM, uda ngirim uang sekarang"

Saya yang saat itu baru pulang kuliah, belum sempat ganti baju, langsung loncat pergi ke agen travel terdekat. Mencari tiket pesawat.
Saya masih ingat, di jalan saya ketemu Chicy (teman belajar bareng). Dengan berat hati saya mengatakan bahwa malam ini saya ga bisa ikut belajar bareng malam ini dan beberapa hari berikutnya. Saya mau pulang.
Chicy mengangguk dan tersenyum simpati. "Gapapa" katanya.

Sore itu, selagi mencari tiket pesawat, saya ditelepon ni amah. Ni amah tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya pada saya. Sangat kecewa. Maafkan saya niamah.
Dua agen travel pertama yang saya datangi semuanya tutup. Saya tidak tau lagi dimana agen travel. Waktu itu saya sempat berpikir, mungkinkah ini artinya Allah tidak izin saya pulang?
Lalu saya naik angkot coklat, berharap sepanjang jalan menemukan agen travel. Saya ga tau mau menuju kemana, pokoknya sampai ketemu agen travel.
Akhirnya saya ketemu agen travel di simpang cileunyi. Alhamdulillah...

Jadilah saya beli tiket pesawat itu. Satu juta.
Orang yang menjual tiket tersebut tampak terheran-heran dengan saya. Mungkin karena pulang yang sangat mendadak itu. Ya sudahlah.
Magrib saya baru pulang dari agen travel. Waktu itu saya me-sms seorang teman, mengatakan sesuatu. Saya ingin mengatakan saat ini bahwa sms itu saya kirim dengan menanggalkan semua ego dan meletakkan perasaan saya di sebersih-bersih niat baik. Tidak dibalas.
Saya tidak akan tulis sms itu di sini meskipun saya masih ingat. Dengan membaca tulisan ini lagi kelak, dengan sendirinya saya akan ingat apa yang saya tulis di sms waktu itu. Tidak mungkin saya lupa.

Saya pun pulang. Tapi tidak langsung ke kosan, saya ke kosan Chicy. Sholat magrib, lalu ngobrol sebentar. Merumuskan beberapa target belajar meskipun beberapa hari ke depan tidak bisa belajar bareng. Terakhir, Chicy memeluk saya, membisikkan beberapa kata semangat, semoga setelah pulang saya segera pulih...

Saya pun pulang lah ke kosan. Saat itu hujan lebat. Sms saya dibalas, dengan balasan yang... (ini cuma saya yang tau)
Sesampai di kosan, saya masih mengirim beberapa sms ke beliau, dan dibalas beberapa sms juga. Semua balasannya sungguh sungguh menyakitkan bagi saya. Saya terima dengan lapang dada. Gapapa, setelah ini saya tidak akan mengingatnya lagi. Saya benar-benar akan melupakannya.

Hujan tidak lama. Setelah itu saya pergi k kosan Ike. Ingin bertemu dengan Ike sebentar. Sejujurnya ingin tilawah bareng. Ingin mengambil sedikit kekuatan untuk hati saya yang remuk. Saya udah separuh jalan menuju kosan Ike waktu itu, tapi Ike menolak bertemu saya.

Sisa malam itu saya sibuk mengurus persiapan pulang besok pagi. Mulai dari membereskan pakaian sampai menelepon taksi. Saya memutuskan ga jadi diantar Ike ke BSM, saya naik taksi saja.
Tiara, tetangga sebelah kamar saya, kaget luar biasa saat saya kasih tau kalau besok pagi saya pulang. Awalnya dia tidak percaya. Mungkin muka saya sebegitu datarnya sehingga dia menyangka saya bercanda.
Dia sempat bertanya, saya bawa oleh-oleh apa untuk pulang? Saya jawab, saya tidak bawa apa-apa. Saya ga punya sisa uang lagi.

Malam itu Tiara mau nginap di kosan temannya. Sebelum pergi nginap, dia membeli 2 brownies. Satu dititip untuk ibunya, guru kesenian saya waktu SMA, satu lagi untuk saya bawa pulang ke rumah. Setelah membeli brownies pun, dia masih bertanya tak percaya, "iyo bana uni ka pulang?"

-bersambung-

Friday, October 7, 2011

Umi

ini sms yang saya kirim ke umi, saya tulisa sambil nangis, entahlah mungkin di dosa saya ke umi sehingga hidup saya kacau balau sebulan ini...

Umi, ijah taragak samo umi

Acok takana dek ijah umi,

Tiok takana umi, takana dek ijah doso2 ijah ka umi

Maafkan ijah yo mi

Manyasa ijah jo kalakuan2 ijah salamo ko

Taragak bana ijah sobok umi, nio minta maaf

Mudah-mudahan ado nasib ijah basuo jo umi

Umua ndak tantu, antah kok ijah nan dulu

Taragak bana ijah samo umi

Ijah sayang samo umi

Mudah-mudahan lapang nasib untuak manyanangan hati umi bisuak

Maafkan ijah yo mi…

Mirror, Mirror In The Brain: Mirror Neurons, Self-understanding And Autism Research

Mirror, Mirror In The Brain: Mirror Neurons, Self-understanding And Autism Research

Tuesday, October 4, 2011

ACHIEVE (2)

ACHIEVE (1) adalah harian

ini adalah achievement yang lebih panjang

1. Proporsi tubuh normal dan wajar. Menambah massa otot dan menurunkan BMI jadi 17
2. Membereskan seluruh tanggung jawab akademis di FK sesuai goal awal: IPK > 3.5

ada beberapa mimpi yang terlupakan

1. Menghafal al quran 30 juz
tadinya mimpi ini mau dicapai begitu selesai S.Ked, tapi mimpi ini terlupakan sudah selama 3 tahun. Jadi waktunya diperpanjang, sampai selesai internship. Ada sekitar 3 tahun lagi.
Target besar sebenarnya adalah sebelum menikah, namun untuk jaga-jaga, katakanlah sudah layak menikah selesai internship, artinya ketika waktu itu tiba target ini sudah tercapai.

2. Menulis buku
ini yang terlupakan parah. Benar-benar terlupakan.
Belum berani menerapkan target baru untuk mimpi yang satu ini. Minimal dengan tulisan ini jadi pengingat lagi bahwa saya punya mimpi menulis buku. Wujudkan segera.

3. Certificate Deutsch
Ini semacam tes TOEFL dlm bahasa jerman. Tadinya menargetkan ini pas lulus S.Ked, tapi terlupakan juga dan dengna waktu yang sempit ini sepertinya tidak bisa mencapai ini dalam waktu dekat. Jadi, waktunya diperpanjang, sampai selesai koas.

Mimpi-mimpi kecil...
*Ini adalah mimpi jangka sangat pendek yang sebetulnya ingin saya wujudkan sebelum S.Ked

4. Membaca habis Moore Anatomy
5. Membaca habis Moore embryology
6. Membaca habis tortora
alasannya: since buku2 tersebut adalah buku asli yang saya punya, jadi saya pengen baca habis. Udah mahal-mahal beli ga dibaca kan sayang :)

mimpi baru...
*baru tercetus, atau sebenarnya sudah ada sejak lama, diam-diam muncul, tapi karena hal-hal lain jadi lupa untuk mengingat ulang mimpi ini

7. Belajar bahasa korea
ini sebenarnya pelarian rasa bersalah, rasa bersalah karena saya sering menghabiskan waktu nonton film korea. Jadi biar ga mudharat2 amat, sekalian belajar bahasanya biar waktu yang terhabiskan karena nonton tersebut ada nilai manfaatnya meskipun sedikit.

8. Belajar bahasa jepang
ini sebenarnya agak random sih. Ga begitu kuat alasan untuk mencapai mimpi ini. Hanya terstimulus karena seorang teman.
Optional?
ga tau

mimpi jangka panjang...

9. Enterpreneurship
tujuan jangka menengah hidup saya: menjadi seorang enterpreneur yang bekerja sampingan sebagai seorang dokter. Tujuannya, dokter bukan sumber penghasilan utama. Profesi dokter untuk mengabdi dan mengamalkan ilmu, bukan mencari uang.

-bikin rumah makan padang --> ini karena penasaran dengan rumah makan padang yang manyarok di pulau Jawa. Menurut saya, cukup menguntungkan buka usaha di bidang ini.
-usaha konveksi atau tekstil --> karena ngiri liat kebanyakan yang jual baju di pasar baru orang padang
-kolam renang khusus akhwat --> ini karena saya concern dengan kecantikan dan kebugaran akhwat. Akhwat seringkali terpinggirkan haknya untuk bugar karena terbatas fasilitas untuk itu.
-pusat fitness khusus akhwat --> alasannya idem sama yang di atas, ditambah dengan fakta bahwa setelah umur 30 tahun, massa otot wanita menurun karena penuaan. Hal ini yang menjelaskan kenapa banyak wanita yang menjadi gemuk setelah punya anak. Jadi pengennya akhwat tetap cantik meskipun umurnya sudah aging. Salah satunya adalah dengan memfasilitasi latihan beban.
-rumah makan sehat
tujuannya untuk mensosialisasikan program diet alami. Mengubah pola makan konvensional yang selama ini menjadi pola makan kebanyakan orang.
Saya mau bikin restoran khusus makanan sehat, dimana makanan yang disajikan adalah aneka sayuran dan buah-buahan segar, dikemas dalam menu menarik. Deskripsinya ada layar besar yang mnampilkan cara hidup sehat dengan pola makan sehat, hitung-hitung untuk edukasi dan promotive-preventive medicine.

totally ada 12 mimpi..
belum 100

semoga tercapai ya

ALLAHUMMA AMIN :)

Paceklik

dua atau tiga minggu ini saya sangat boros sekali.

Karena itu mulai hari ini, saya menetapkan paceklik dalam hidup saya, minimal sebulan ke depan.
Makan sewajarnya dan OLAH RAGA.

Allright then, it is brain training program. Ready to fight.

Count, 1.
Yap, ini hari pertama.

This program will end on nov 3, 2011

semangat, azizah!

Peta Hidup

Ini baru rancangan kasar yang tepikirkan. Yang jelas tiga tahun ke depan hidup saya hampir bisa dipastikan, koas dan internship. Fixed sekali seperti sekolah umumnya. Meski sekarang masih kasar, setidaknya ada 3 tahun lagi untuk berpikir ulang atau memperbaiki beberapa rencana.

awal 2012 (22 tahun): S.Ked dan mulai koas
akhir 2013 (24 tahun): sumpah dokter
awal 2014 (24 tahun): internship
awal 2015 (25 tahun): selesai internship, siap-siap PTT di Papua.
PTT selama 3 tahun
awal 2018 (28 tahun): selesai PTT, pulang k Bandung, bekerja di Bandung
Buka usaha, mengumpulkan uang untuk sekolah di Jerman. Dua tahun di Bandung.
akhir 2019 (30 tahun): sekolah di Jerman 1 tahun atau 2 tahun

32 tahun: pendidikan dokter spesialis (Bedah saraf, penyakit dalam atau jantung)

menikah? ini agak membingungkan, masih termasuk hal rumit dalam perencanaan hidup saya. Entah dimana letaknya pernikahan itu. Tergantung takdir. Namun, opsinya ada 3. Umur 25 setelah internship, umur 28 setelah PTT, atau umur 32 pulang dari Jerman.
Kecenderungannya umur 32 tahun. Alasannya, saya masih ingin achieve many things dlm hidup saya. Masih ingin sendiri dalam waktu-waktu tersebut, terutama bila tidak ada yang 'memulai'. Tapi kalau takdir berkata lain, insya Allah mulai umur 25 saya siap menikah, hehe, meski dengan beberapa preeliminary criteria. Yang paling utama adalah kakak saya sudah harus menikah dulu.

32 tahun? terlalu tua? I don't think so. Setidaknya saya masih bisa punya anak 2 orang (meski sebelumnya pengen punya anak 5 ke atas :p )

setelah itu...

Saya mungkin sudah jadi dokter bedah saraf umur 38 tahun, bekerja, membesarkan anak, menjadi seorang pengusaha (sukses, insya Allah).

semoga sudah berhasil mencapai cita-cita jangka menengah: seorang pengusaha yang bekerja sampingan sebagai seorang dokter =)

sesekali menulis buku, mungkin.
Ke luar negeri, terutama ke Korea. Niatnya tinggal beberapa tahun di sana untuk melancarkan bahasa Korea. Saya sangat suka bahasa itu.

20 tahun setelah saya jadi dokter bedah saraf, insya Allah saya memasuki fase keluarga dalam Duvall Family Cycle: FAMILY LAUNCHING YOUNG ADULTS. Anak saya sudah dewasa, dan memasuki fase kehidupan selanjutnya.
Begitu pun saya, bersiap untuk kehidupan selanjutnya...

ACHIEVE 1

Golden habits during golden month KKN

1. Bangun jam 03.30-04.00 untuk qiyamulail
2. Habis subuh tilawah
3. Jam 06.00 lari pagi sampai jam 08.00
4. Sholat fardhu selalu tepat waktu
5. Habis magrib tilawah hingga genap 1 juz
6. Tidur jam 23.00

ruhi stabil dan ibadah stabil

Friday, September 30, 2011

Sinetron

malam ini saya terniat lagi untuk menulis kisah hidup saya yang seperti sinetron...
menulis lagi..
menulis lagi...
menulis lagi...

baiklah...

insya Allah, coming soon, Azizah's life
meski diawali dengan kisah c***a, semoga bisa jadi batu loncatan untuk melupakannya ke depannya serta memulai awal baru

I'm sure I'm great :)

Thursday, September 29, 2011

Passion

Sekarang saya sedang berada di kantin Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS). Rumah sakit ini bakal jadi tempat keseharian saya mulai bulan maret tahun depan, insya Allah.

Selagi nunggu makanan, buka laptop dan menulis.

Passion. Inilah yang saya cari hari ini.

Memandangi jas-jas putih koas di sekitar saya. Berusaha memvisualisasikan bahwa saya akan memakai jas putih itu 5 bulan lagi. Sebentar lagi.

Ini harusnya ngasih saya semangat untuk ngerjain skripsi dan menyelesaikan amanah-amanah saya yang tersisa di FK. ditambah dengan mimpi-mimpi yang belum sempat dicapai bahkan sudah dilupakan.

Menjadi seorang dokter. Mimpi yang begitu menggebu-gebu saat saya SMA, kuliah di farmasi dan saat tahun pertama di FK UNPAD. Namun makin lama status tersebut terasa makin hambar. Entah mungkin makin terbiasa.

Orang-orang berjas putih itu, jas koas setidaknya, pasti kompetensinya berbeda-beda meski dari luar terlihat sama semuanya. Sama-sama pakai jas putih, sama-sama terlihat pintar. Padahal belum tentu sekompeten itu di dalamnya.

Mungkin itu juga yang membuat saya hambar, karena mengingat kompetensi keilmuan saya sangat jauuh jauh sekali. Sangat minim sekali.

Ingin rasanya dalam waktu 4 bulan ini mereview semua ilmu kedokteran, ingin memfiksasi semua kasus di kepala saya, semua skill, semuanya, biar saya tidak hanya terlihat pintar dari luar saat memakai jas putih itu, tapi juga pintar di dalam.

Huft, begitu banyak pe-er yang menunggu.

Ayolah semangat!

*sejujurnya kata-kata semangat itu ga ngaruh sedikitpun buat diri saya :(

Tuesday, September 27, 2011

Woman = Problems

saya ngakak pas baca tulisan ini
ada benarnya juga..
yang pasti ga berlaku buat semua wanita ya
dan saya ga seperti itu :)

Monday, September 19, 2011

Doa paling sederhana

ya Allah, diantara doa saya, jika doa ini boleh dikatakan paling remeh menurut pandangam-Mu maka kabulkanlah ya Rabb...
saya minta satu hal, izinkan saya bertemu ibu saya sekali lagi, sebelum hidup saya atau ibu saya berakhir...

ya Allah...

ya Allah, cabutlah nikmat apa saja yang dapat menjauhkan saya dari-Mu...

Sunday, September 18, 2011

Allah Engkau Dekat

Allah Engkau dekat penuh kasih sayang
tak kan pernah Engkau biarkan hamba-Mu menangis..
karna kemurahan-Mu, karna kasih sayang-Mu

Hanya bila diri-Mu ingin nyatakan cinta
pada jiwa-jiwa yang rela dia kekasih-Mu
Kau yang slalu terjaga, yang memberi segala

Allah Rahman, Allah Rahim
Allahu ya Ghaffar ya Nurul Qalbi
Allah Rahman, Allah Rahim
Allahu ya Ghaffar ya Nurul Qalbi

di setiap nafas
di segala
semua bersujud memuji memuja asma-Mu
Kau yang slalu terjaga, yang memberi segala...

Allah Rahman Allah Rahim
Allahu ya Ghaffar, ya Nurul qalbi
Allah Rahman, Allah Rahim
Allahu ya Ghaffar, ya Nurul qalbi..

setiap makhluk bergantung pada-Mu
dan bersujud semesta untuk-Mu
setiap wajah mendamba cinta-Mu, cahaya-Mu...

Allah Rahman, Allah Rahim
Allahu ya Ghaffar ya Nurul qalbi
Allah Rahman, Allah Rahim
Allahu ya Ghaffar, ya Nuur...

-Cahaya hati, OPICK-

Wednesday, September 14, 2011

Manggaro badan surang

Well, ini target seminggu ke depan

1. Olah raga rutin tiap hari
2. Beres draft skripsi rabu depan
dg rincian rencana
- kamis besok ketemu dr. Elsa, minta data (it's mean malam ini udah ngerjain bab 2, garis bawah: sampai drop!)
- jumat: ktemu dr yana
- minggu: selesai draft (ini target untuk da lim)
- selasa: ktemu dr elsa utk minta tanda tangan lembar pengesahan
- rabu: presentasi proposal

list of forbidden things
-dger lagu ost dream high
-dger lagu yanni
-buka fb lama2 (not more than 10 minutes per day)

Alright then. I'll prove, I can do that!

Saturday, September 10, 2011

Reply on 30 April 2011's post

Buka-buka older post di blog, ketemulah saya dg tulisan ini "Ketika Sabar Hampir Bersinonim dengan Menunggu"

Salah satu kalimat yang saya garis bawahi:
"ingin rasanya meloncat ke tiga atau bahkan sepuluh tahun mendatang, ketika di masa itu dunia saya sudah berubah, dan saya hanya bergumam "oh, peristiwa itu ya. Ga kerasa ya, udah selama ini berlalu" ketika mengingat masa ini."

Lebih kurang 4 bulan berlalu sejak saat itu. I think, I have recovered. I'm not in such excruciating pain anymore. Lumayanlah.
Today I can say "oh, peristiwa itu ya. Ga kerasa ya, udah selama ini berlalu"

Kemarin jumat saya ketemu dg sahabat saya tersebut. Di masjid Asy Syifaa saat sholat ashar. Alhamdulillah saya tidak merasakan sakit seperti 4 bulan yang lalu.
Tapi saya tidak bisa menyapanya sehangat saya menyapa teman lain.
The reason?
Alasannya, mungkin karena she is someone I've removed from my heart to my outside. Yang sebelumnya dia adalah sahabat yang begitu berarti, punya tempat paling istimewa di hati saya menjadi teman yg hanya ada di sekitar saya.
However, the hurt is still exist actually. Itu sebabnya ketika ingin menyapa atau tersenyum semacam ada barrier.

I'm sorry. Perhaps in future this hurt get recovered and recovered. Perhaps I can be such a person who smile warmly to you spontaneously without feeling discomfort.

Friday, September 9, 2011

Welcome Home (part 1)

saya (via message fb): I'm very sorry, tadi terlalu kaget, ga nyangka ketemu secepat itu (even I can't talk to you or just say hello)
welcome home :))

sepanjang hari saya menunggu balasan message itu, saat buka fb tadi isya, sudah ada balasan.
Tapi saya tidak berani membukanya.

*Dan sekarang saya kehilangan nafsu makan >.<

bersambung...

Thursday, September 8, 2011

Nonsense? Absolutely No!

Salah satu target saya adalah membentuk tubuh. Saya butuh menukar lemak dengan otot. Agar saya sekuat binaragawan. Atau minimal sekuat Lisa Rumbewas (atlet angkat besi dari Papua).
Saya belum merencanakan detail usaha2 menuju target tersebut. Namun visualisasinya amat dekat di pikiran saya. Semakin jelas visualisasi, semakin tinggi motivasi untuk menggapainya.

Kenapa?
karena saya butuh badan yang kuat untuk mengerjakan tugas saya sebagai dokter, terutama saat saya PTT kelak.
Rencananya saya mau PTT di Papua atau NTT.

Selain itu, saya ingin punya badan yang cukup kuat untuk menggendong ibu saya.
Paling cepat setelah lulus dokter nanti atau setelah internship, saya akan membawa orang tua saya kemana saya pergi.

Ya, ayah dan ibu saya. Mereka akan tinggal bersama saya. Karena diantara anak orang tua saya, sayalah yang paling mungkin merawat orang tua saya.
Jadi saya akan bawa orang tua saya, termasuk ke daerah PTT.

Jadi saya butuh badan yang kuat untuk bisa merawat orang tua saya di daerah terpencil yang serba terbatas. Transportasi yang terbatas mungkin jarak tempuh yang terlalu jauh atau medan yang berat.

Katakanlah, jika ibu saya lelah berjalan, saya menggendongnya di punggung saya.

Ketika saya ceritakan ini kepada adik ibu saya, dia bilang ini mustahil. Tidak mungkin saya akan membawa pergi ibu saya dengan kondisi seperti itu. Apalagi ke daerah PTT.

Bagi saya mungkin. Mau tinggal di Bandung, Padang bahkan ke Papua sekalipun, saya tetap akan bawa orang tua saya.

I definitely will take care of my parent.
Insya Allah...


Ya Allah, ease my way...

If...

If my mother died before I meet her..
If she died before I apologize...
If she died while I'm still in guilty feeling..

I will remember her for the rest of my life

regretfully
with full of tears...

I will cry everywhere...
everytime...
for the rest of my life...


I hope I still have chance to meet her, or at least doing something which make her happy


"...maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia"

(QS Al Isra': 23)


*if..that happen...Allah, just let my die in my crying, don't let me live again...

Tuesday, September 6, 2011

Bukan 'Apa Adanya' Lagi

dua minggu terakhir saya jauh dari Allah
saya sering melihat ke 'atas'
akibatnya saya tidak bersyukur
sehingga saya tidak sabar
tidak bisa mengendalikan emosi
salah satunya saya lampiaskan ke ibu saya
masalah kecil dg ibu saya jadi masalah besar
saya juga melampiaskan emosi ke kakak saya

saya merasa terlalu banyak melihat ke atasi
ditambah dengan masalah2 lain
pihak kosan yang menyebalkan, skripsi saya yang sulit, referensi yang kurang, sayanya juga malas, dll
saya kehilangan diri sendiri
bukan 'apa adanya' lagi

Sunday, June 19, 2011

To be only yours

I dedicate this song…


That’s not my song, I’ve just hear it in a tale. A tale which is full of wisdom.

The song just reminds me to you. The one who is my greatest desire to meet…

The one who is my greatest dream to develop my life with

The unknown you…


Untuk orang yang saya tidak tahu siapa namanya. Tidak tahu bagaimana rupanya. Namun orang itu kerap menjadi buah renungan saya. Sambil menunggu saat bertemu dengannya. Entah kapan...

Mimpi terbesarku selain menjadi dokter adalah bertemu denganmu. Ingin melihat sendiri dengan mata kepalaku, inilah orang yang dulu Allah tetapkan untukku saat 40 hari umurku dalam perut ibuku.

Aku tidak tahu kapan akan bertemu denganmu.

Jika saat itu datang, aku akan menghitung ke belakang. Berapa tahun setelah namamu ditetapkan untukku, aku bertemu denganmu?

26? 28? 30?

Dan hidupku setelah itu pastilah luar biasa.


There’s a song that’s inside of my soul

It’s the one that I’ve tried to write over and over again

I’m awake in the infinite cold

But you sing to me over and over and over again


So I lay my head back down

And I lift my hands and pray

To be only yours

I pray

To be only yours

I know now you’re my only hope


Sing to me the song of the stars of your galaxy

dancing and laughing and laughing again

When it feels like my dreams are so far

Sing to me of the plans that you have for me over again


So I lay my head back down

And I lift my hands and pray

To be only yours

I pray

To be only yours

I know now, you’re my only hope


I give you my destiny

I’m giving you all of me

I want your symphony

Singing in all that I am

At the top of my lungs

I'm giving it back