Besok 1 Januari.
Sebelum besok, saya mau flash back resolusi 2 tahun terakhir.
2011: Belajar memaafkan dan melupakan kesalahan orang lain
2012: Berlapang dada menerima segala sesuatu yang ditetapkan Allah.
Tidak terbawa perasaan.
Untuk ketiga resolusi itu saya merasa banyak ujian tentangnya. Seakan-akan Allah menyambut baik apa yang ingin saya bangun, lalu memberi ujian untuk menumbuhkannya.
Wallahualam apakah saya sudah 'lulus' dan bisa menyandang predikat sebagai "Pemaaf dan melupakan kesalahan orang lain", "Orang yang berlapang dada" atau orang yang "Cukup logis, realistis dan tidak terbawa perasaan".
Saya yakin ini butuh proses belajar yang long life time. Seumur hidup saya tetap belajar soal ini.
Menulis ini untuk mengingat bahwa saat saya mendeklarasikan resolusi tersebut terasa jelas ujian yang diberikan Allah sesudahnya.
2011: Belajar memaafkan dan melupakan kesalahan orang lain
Seingat saya ada 3 ujian berat di sini yang mungkin saya simpan di hati saja. Tidak ditulis di sini karena terlalu pribadi.
2012: Berlapang dada menerima segala sesuatu
Tahun 2012 saya dihadapkan pada beberapa hal yang tidak terduga sebelumnya dan terpaksa saya terima.
Tentang koas saya yang gagal hanya karena beberapa station osce. Tentang remedial osce pertama yang gagal hanya karena saya lupa 'greet the patient'- menyapa pasien. Kemudian osce berikutnya yang gagal dan gagal sehingga pada akhirnya saya harus menunda koas selama 6 bulan lebih.
Kemudian sebuah peristiwa tak terlupakan waktu saya wisuda. Tentang seseorang yang mengagetkan saya, tidak menyangka dia akan berkarakter seperti itu. Seseorang yang selama ini saya kira adalah sebaik-baiknya figur ternyata memiliki sisi yang harus saya terima dengan lapang. Yang kemudian menjadi pembelajaran bagi saya bagaimana bersikap seterusnya.
Lalu kenyataan-kenyataan yang saya temui di keluarga saat pulang.
Tentang ibu saya dan kakak sulung saya. Di sini untuk pertama kalinya saya menemukan bahwa hukum sosial itu ternyata sungguh kejam. Miniatur pertama saya temukan di keluarga sendiri. Ini jadi semacam warning bahwa nanti di dunia luas setelah saya jadi dokter mungkin akan mengalami hal yang lebih parah dari ini.
Pertama kali terloncat dari saya kata-kata "my family is not a safe place anymore"
Tentang mimpi.
Kali ini saya dihadapkan pada kaidah bahwa ternyata usaha maksimal belum tentu cukup untuk mencapai mimpi. Diperlukan doa yang benar-benar intens (dan izin Allah tentunya)
Ini tentang mimpi saya ikut PDW.
Saya mati-matian dan habis-habisan latihan fisik untuk PDW ternyata tidak lulus.
Saya tidak lulus bukan di tes fisik, tapi di tes medis.
Ini adalah saat dimana saya optimis hanya pada usaha tapi kurang berdoa.
Berusaha semaksmalnya bahkan melebihi dari orang lain, tapi tidak mendapatkan impian.
Tentang PDW saya ingat status hakam tentang saya "Ada orang yang sudah berusaha keras. Sangat keras. Tapi tidak diberikan jalannya. Ada pula yang malas-malasan seakan-akan tidak niat namun Allah berikan jalannya. Apapun itu saya yakin pasti yang terbaik"
Ini termasuk hal yang paling menyedihkan bagi saya dan paling sulit saya terima.
Mungkin karena awalnya saya menganggap untuk ikut pdw, kekuatan fisiklah yang paling penting. Maka saya pun 'menghajar' fisik mati-matian sehingga pada saat seleksi saya sakit. Ini kemudian menjatuhkan hasil medis saya.
Sungguh tidak disangka ternyata hasil tes fisik sama sekali tidak diperhatikan. Medis justru.
Apa boleh buat. Saya kehilangan mimpi menjadi AMW 2 tahun lebih lambat.
Jika masih ada kesempatan dan izin Allah mungkin saya baru bisa ikut PDW lagi tahun 2014. Mungkin juga impian untuk menjadi wanadri itu tidak pernah tercapai. Sebab ada impian yang lebih dahsyat dan mendesak daripada itu yang mungkin akan menggagalkan saya ikut PDW 2014. Tapi keduanya masih unclear. Mana yang Allah kehendaki.
Terakhir di tahun 2012 tentang 'berlapang dada menerima segala sesuatu' adalah koas.
Alhamdulillah untuk masalah koas ini saya sudah cukup 'terlatih' berlapang dada sebelumnya. Ada beberapa hal yang sebenarnya tidak saya kehendaki tapi terjadi dan saya terpaksa menerima dan berdamai dengannya.
Salah satunya waktu itu saya sempat berujar, "ya Allah, don't do this to me" sambil menangis. Tapi bagaimanapun, saya tetap harus menjalaninya. Sampai sekarang saya belum menemukan hikmah mengapa Allah menempatkan 'kondisi' itu pada saya.
Satu lagi tentang usaha dan doa.
Belajar dari ketidaklulusan PDW, saya mempunyai hajat yang lain. Hajat tersebut saya jemput dengan ikhtiar dan doa yang menurut saya sebenar-benar pasrah. Sepanjang ramadhan dan terutama 10 hari terakhir saat i'tikaf dan hari-hari sesudahnya. Namun, doa dan ikhtiar itu belum Allah izinkan.
Semacam belajar untuk bersabar.
Wallahualam. Barangkali belum Allah kabulkan sekarang. Mungkin Allah kabulkan nanti atau Allah kabulkan segera dengan yang lebih baik.
Sekian di tahun 2012.
Resolusi 2013
Awalnya terpikir ingin resolusi ini "Prestatif" dalam beberapa hal untuk masa depan saya.
Namun, setelah dipikir dan direnungi condonglah saya pada resolusi ini "Belajar menjadi istri yang baik"
Sebetulnya ini sekaligus doa agar tahun 2013 saya bisa menikah. Namun tidak mengapa jika Allah belum mengizinkan, yang jelas tahun ini tetap menjadi pembelajaran buat saya.
Ya, belajar menjadi istri yang baik.
Dalam segala hal. Manajerial rumah tangga, manajerial hubungan, manajerial psikologi dan seterusnya.
Wish my dream come true, soon :))
Monday, December 31, 2012
Qualities of a Healthy Marriage
link ini dapet dari fb-nya teh moi
bagus buat jadi catatan untuk ditengok kemudian :)
Qualities of a Healthy Marriage
Several social scientists, in examining “healthy marriages,” have identified a number of traits, qualities and skills of people who had been able to maintain successful, satisfying relationships. These people:
1.Share a healthy philosophy of life with clear ideals
2.Are growing in friendship and respect as well as love for each other
3.Share many interests and activities together
4.Enjoy each other’s company
5.Are trusting and trustworthy, are interpersonally honest yet tactful
6.Are interdependent
7.Are proud of each other’s achievements, and give realistic praise
8.Are interested in and respect each other’s work
9.Share in decision making
10.Try to share and make monotonous work interesting, such as household chores
11.Have realistic hopes linked to attainable goals
12.Take responsibility for decisions and behavior
13.Will, if education is needed to reach goals, patiently delay marriage to continue their schooling
14.Have a mindset which sees problems as challenges to be solved
15.Have usually been seriously interested in at least three other possible mates before making their final choice, and have affected “break-ups” in non-destructive ways
16.Are able to live within their financial means
17.Are ware of their weaknesses and show efforts at constructive change
18.Use criticism wisely, but maintain a balance in which there is more praise than criticism
19.Are "real" people, genuine and authentic
20.Find that the growing relationship helps each person become more sure of him/herself
21.Engage in healthy physical activities – get adequate nutrition, exercise and sleep
22.Restrict their use of sarcasm, nagging, embarrassment and complaining
23.Enjoy talking and listening to one another, even when discussing areas of conflict
24.Experienced courtships that were not frantic or rushed (over 60% of the early divorces were due to hurried marriages- where the couples were very young, not well acquainted, and where the engagement period was very short)
25.Are empathic and attempt to understand and meet their partner’s needs
26.Did not elope (4/5 of couples who elope, divorce
27.Enjoy giving of themselves to others – they desire to give as well as to get
28.Used their courtship time to thoroughly get acquainted, and grow in love
29.Carefully consider the issues that face them, evaluating the pros and cons of alternatives. They try not to jump to hasty conclusions regarding important relationship issues
30.Marry out of respect and affection, not out of pity or sympathy
31.Enjoy each other’s families, in spite of their possible faults
32.Talked through a number of sexual issues during their engagement period
33.Enjoy a healthy, non-destructive and appropriate use of humor
34.Are satisfied with the amount of affection demonstrated in their relationship
35.Try to change personal habits that are irritating to their spouse
36.Try not to dwell on past mistakes, but look ahead to ways of avoiding similar situations in the future
37.
Are able to forgive and receive forgiveness from one another
bagus buat jadi catatan untuk ditengok kemudian :)
Qualities of a Healthy Marriage
Several social scientists, in examining “healthy marriages,” have identified a number of traits, qualities and skills of people who had been able to maintain successful, satisfying relationships. These people:
1.Share a healthy philosophy of life with clear ideals
2.Are growing in friendship and respect as well as love for each other
3.Share many interests and activities together
4.Enjoy each other’s company
5.Are trusting and trustworthy, are interpersonally honest yet tactful
6.Are interdependent
7.Are proud of each other’s achievements, and give realistic praise
8.Are interested in and respect each other’s work
9.Share in decision making
10.Try to share and make monotonous work interesting, such as household chores
11.Have realistic hopes linked to attainable goals
12.Take responsibility for decisions and behavior
13.Will, if education is needed to reach goals, patiently delay marriage to continue their schooling
14.Have a mindset which sees problems as challenges to be solved
15.Have usually been seriously interested in at least three other possible mates before making their final choice, and have affected “break-ups” in non-destructive ways
16.Are able to live within their financial means
17.Are ware of their weaknesses and show efforts at constructive change
18.Use criticism wisely, but maintain a balance in which there is more praise than criticism
19.Are "real" people, genuine and authentic
20.Find that the growing relationship helps each person become more sure of him/herself
21.Engage in healthy physical activities – get adequate nutrition, exercise and sleep
22.Restrict their use of sarcasm, nagging, embarrassment and complaining
23.Enjoy talking and listening to one another, even when discussing areas of conflict
24.Experienced courtships that were not frantic or rushed (over 60% of the early divorces were due to hurried marriages- where the couples were very young, not well acquainted, and where the engagement period was very short)
25.Are empathic and attempt to understand and meet their partner’s needs
26.Did not elope (4/5 of couples who elope, divorce
27.Enjoy giving of themselves to others – they desire to give as well as to get
28.Used their courtship time to thoroughly get acquainted, and grow in love
29.Carefully consider the issues that face them, evaluating the pros and cons of alternatives. They try not to jump to hasty conclusions regarding important relationship issues
30.Marry out of respect and affection, not out of pity or sympathy
31.Enjoy each other’s families, in spite of their possible faults
32.Talked through a number of sexual issues during their engagement period
33.Enjoy a healthy, non-destructive and appropriate use of humor
34.Are satisfied with the amount of affection demonstrated in their relationship
35.Try to change personal habits that are irritating to their spouse
36.Try not to dwell on past mistakes, but look ahead to ways of avoiding similar situations in the future
37.
Are able to forgive and receive forgiveness from one another
Notes Teh Nada
tulisan ini saya copas dari note nya teh nada. Judulnya "Tentang Memilih Pasangan Hidup"
Tentang memilih pasangan hidup :
-Pilihlah seorang laki-laki yang berbakti kepada ibunya, menjaga adik perempuannya dan membantu kakaknya. Itulah laki-laki yang tau arti penting seorang wanita, memahani “respect to a woman”
-Pilihlah yang dengannya hatimu terglitik untuk semakin mendekatkan diri pada Allah. Yang dengannya rasa cintamu untuk Rasul semakin kau asah. Yang dengannya, buku-buku agama memenuhi perpustakaan kecil milikmu dan Quran menjadi lantunan akrab telingamu. Dengan begitu dirimu akan tetap terjaga
-Pilihlah seseorang yang dapat menjadi ayah panutan untuk anak-anakmu. Yang kualitas pribadinya kau inginkan dalam karakter putramu kelak.
-Pilihlah seseorang yang bisa menjadi sahabatmu saat segala “api cinta” mulai berubah mendewasa
-Pilihlah seseorang yang akan selalu menjadi orang pertama yang ingin kau beritahu segala update keseharianmu
-Pilihlah seseorang yang ikut memikirkan masa depan mimpimu, membangun mimpi bersama, tidak sekedar mengejar mimpinya
-Pilihlah seseorang yang memahami batas-batas agama agar dapat menegurmu atas alasan itu
-Pilihlah seseorang yang mau melanjutkan hidupnya denganmu, mau tua bersamamu, dan mau melewati segala cobaan dengan tetap ada dirimu
Yakinlah suami kita kelak adalah orang yang selama hidupnya berusaha menjadi versi terbaik dirinya, sama seperti dirimu. Dan ia telah memilih untuk menempa dirinya dan memberikan yang terbaik untuk dirimu. For a person like that, give all you can to LOVE HIM BACK.
Tentang memilih pasangan hidup :
-Pilihlah seorang laki-laki yang berbakti kepada ibunya, menjaga adik perempuannya dan membantu kakaknya. Itulah laki-laki yang tau arti penting seorang wanita, memahani “respect to a woman”
-Pilihlah yang dengannya hatimu terglitik untuk semakin mendekatkan diri pada Allah. Yang dengannya rasa cintamu untuk Rasul semakin kau asah. Yang dengannya, buku-buku agama memenuhi perpustakaan kecil milikmu dan Quran menjadi lantunan akrab telingamu. Dengan begitu dirimu akan tetap terjaga
-Pilihlah seseorang yang dapat menjadi ayah panutan untuk anak-anakmu. Yang kualitas pribadinya kau inginkan dalam karakter putramu kelak.
-Pilihlah seseorang yang bisa menjadi sahabatmu saat segala “api cinta” mulai berubah mendewasa
-Pilihlah seseorang yang akan selalu menjadi orang pertama yang ingin kau beritahu segala update keseharianmu
-Pilihlah seseorang yang ikut memikirkan masa depan mimpimu, membangun mimpi bersama, tidak sekedar mengejar mimpinya
-Pilihlah seseorang yang memahami batas-batas agama agar dapat menegurmu atas alasan itu
-Pilihlah seseorang yang mau melanjutkan hidupnya denganmu, mau tua bersamamu, dan mau melewati segala cobaan dengan tetap ada dirimu
Yakinlah suami kita kelak adalah orang yang selama hidupnya berusaha menjadi versi terbaik dirinya, sama seperti dirimu. Dan ia telah memilih untuk menempa dirinya dan memberikan yang terbaik untuk dirimu. For a person like that, give all you can to LOVE HIM BACK.
Habibie-Ainun
manakala hati menggeliat mengusik renungan
mengulang kenangan saat cinta menemui cinta
suara semalam dan siang seakan berlagu
dapat aku dengar rindumu memanggil namaku
saat aku tak lagi di sisimu
kutunggu kau di keabadian...
aku tak pernah pergi
selalu ada di hatimu
kau tak pernah jauh
slalu ada di dalam hatiku
sukmaku berteriak menegaskan
kucinta padamu
terimakasih pada Maha Cinta menyatukan kita
saat aku tak lagi di sisimu
kutunggu kau di keabadian...
sedang mendengarkan lagu "Cinta Sejati"- soundtrack film Habibie-Ainun.
Film-nya lucu dan mengharukan. Saya mengagumi pernikahan mereka. Saya ingin punya pernikahan sekokoh itu.
Suka duka dijalani bersama.
Selalu saling menemani kemanapun pergi. Jika tidak fisik, hati selalu bersama.
Menjadi tim yang solid untuk mengatasi kesulitan-kesulitan.
Bukankah pernikahan itu adalah sebuah proses. Bukan tempat memetik hasil.
Justru kesulitan-kesulitan itulah yang membangun cinta dan romantisme.
Misalnya satu bagian dalam film itu ketika awal menikah mereka tinggal di flat yang sempit sehingga bersenggolan.
"Kamu gendut sekali, rumah jadi sempit" kata Habibie
"Iya, aku gendut, jelek, hitam kayak gula jawa, apalagi?"
Habibie tertawa.
"Maaf, saya belum punya cukup penghasilan untuk menyewa flat yang lebih besar untuk kamu"
Lalu kenapa masih banyak yang mengasumsikan menikah itu adalah tempat memetik hasil, duduk kongkow-kongkow menikmati apa yang sudah dipersiapkan selama ini, misalnya uang, rumah yang mewah, mobil, status dan lain-lain sehingga mutlak syarat harus mapan dulu sebelum menikah, harus lulus kuliah dulu, harus bekerja dulu, punya kendaraan, dll.
Bukankah Allah sudah menjamin, jika mereka (pasangan suami-istri) itu miskin, maka Allah akan mencukupkan dengan karunia-Nya, mencukupkan dengan rezeki-Nya?
Dan nikahkanlah orang-orang yang membujang di antara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengeahui. (QS An Nur: 32)
Saya teringat ceramah ust Muhammad Fauzil Adhim. Dari sana saya semakin memahami makna ayat tersebut.
Bahwa jika Allah sudah menjamin sesuatu, bukan berarti kita menunggu tanpa berbuat apa-apa.
Allah sudah menjamin rezeki semua makhluk termasuk rezeki orang yang sudah menikah. Bukan berarti duduk saja dan tunggu rezeki itu datang, tapi berusahalah dan jangan takut usahamu tidak akan membuahkan hasil. Sebab sudah ada jaminan dari Allah. Bersemangatlah berusaha, jemput sampai titik akhir dimana pertolongan Allah itu berada, dimana rezeki itu terletak.
Satu hal lagi pencerahan yang saya dapat dari ceramah ust Muhammad Fauzil Adhim adalah tentang memaknai doa.
Contohnya doa "ya Allah, cukupkanlah aku dengan rezeki yang halal dari-Mu sehingga TIDAK BUTUH aku kepada selain-Mu"
beliau mengiringi doa ini dengan cerita kesulitan ekonomi rumah tangga beliau setelah menikah. Beliau menikah saat kuliah dan istrinya juga masih kuliah.
Beliau menjelaskan doa artinya adalah permohonan dan janji.
Jika kamu memohon kepada Allah agar dicukupkan rezekimu, itu artinya kamu sekaligus berjanji akan mencukupkan rezekimu sendiri. Dengan kata lain kamu harus BERUSAHA mencukupkan rezekimu dengan TANGANMU SENDIRI.
Lalu beliau melanjutkan, "Hidup saya pada awal pernikahan, jika diceritakan mungkin cukup membuat air mata menetes. Tapi setelah melalui itu, Allah datangkan rezeki yang membanjir"
Lalu apa yang perlu ditakutkan tentang kesulitan? Sulit tidak sulit, toh pada akhirnya akan dijalani juga. Misalnya koas. Sebelum koas semua pasti berkata koas itu sulit, tapi tetap dijalani, tho?
Skripsi.
Siapa yang bilang skripsi itu tidak sulit? Semua bilang sulit. Tidak ada skripsi yang mudah. Tapi kenapa dijalani?
Sebenarnya ini bukan pernyataan untuk siapa-siapa. Ini adalah pernyataan untuk keluarga saya yang menakut-nakuti saya menikah dengan kesulitan-kesulitan seperti itu. Menakut-nakuti saya kalau menikah saat koas, koas saya keteteran, belum punya pekerjaan tetap, belum lagi perilaku suami yang menyusahkan, dll.
Masih dalam ceramah ust Muhammad Fauzil Adhim, "Hanya orang-orang berjiwa kerdil-lah yang tidak yakin dengan pertolongan Allah. Menyerah pada kesulitan-kesulitan semacam itu. Berputus asa dari rahmat Allah"
Ah, bahasan ini agak keluar topik. Saya tidak berniat membahas ini sebenarnya (di postingan ini). Saya berencana membahasnya di postingan yang lain.
Oke, kembali ke Habibie-Ainun.
Saya ingin mempunyai (dan mengusahakan) pernikahan sekokoh pernikahan mereka.
Saling mencintai karena Allah. Bukan karena cinta itu sendiri. Sebab cinta hanyalah dopamin yang berkeliaran di otak yang sifatnya sementara.
Cinta itu harus punya landasan. Landasan paling kuat adalah cinta pada Allah.
Jika landasannya adalah Allah, cinta itu akan dibangun semakin lama semakin kuat. Kadar cintamu bergantung pada kecintaanmu kepada Allah. Romantismemu bergantung pada ketaatanmu pada Allah.
Allah-lah nanti yang akan me-rezeki-kan cinta itu padamu.
Maka ketahananmu menghadapi semua kesulitan bersumber dari sana.
Seperti Ainun dan Habibie.
Sampai kamu tua pun, cinta itu tetap terasa romantis, meski daya tarik fisik sudah tidak ada lagi. Allah yang mengkaruniakan cinta itu. Hingga kamu pun tetap menjadi pasangan di akhirat.
Maka kamu adalah partner dalam kebaikan. Partner dalam mendekatkan diri pada Allah. Partner dalam menjalani kehidupan dunia ini sedemikian rupa dengan orientasi akhirat sehingga kamu punya bekal yang cukup untuk selamat melampaui kematian. Untuk hidup sesudah mati.
Atau seperti yang seirng saya sebut
Partner dalam ketaatan, menjalani hidup di atas jalan kebenaran menuju Allah swt sehingga saya siap kapanpun kematian menjemput.
Tidak menunggu umur 60 tahun dulu baru mulai memikirkan mau bawa bekal apa untuk mati, tapi mempersiapkannya setiap hari.
Kau yang di Sana (2)
Menikahi orang yang dicintai adalah kemungkinan. Mencintai orang yang dinikahi adalah kewajiban.
-Salim A Fillah-
Hei, kau!
Ya, kau yang ada di sana.
Kau kemana saja?
Kenapa lama sekali menjemputku?
Aku hampir mati menunggumu.
Sunday, December 30, 2012
Kau yang di Sana
Aku tahu, kau tidak akan kemana, sebab kau adalah jodohku
Hanya saja aku mengkhawatirkan ketaatanku pada Allah mulai terganggu
Aku selalu mengatakan pada Allah, sungguh tak mengapa bila aku baru bertemu denganmu 5 tahun lagi, 10 tahun lagi bahkan jika baru bisa bertemu denganmu sesudah mati pun. Tidak masalah.
Aku hanya tidak ingin jatuh cinta lagi sebelum itu. Sebab jatuh cinta itu melelahkan, menderita dan mengganggu ketaatanku pada Allah.
Atas nama menjaga ketaatan pada Allah, aku sungguh ingin bertemu denganmu.
Kau adalah mimpi terbesarku saat ini, tahukah?
Hanya saja aku mengkhawatirkan ketaatanku pada Allah mulai terganggu
Aku selalu mengatakan pada Allah, sungguh tak mengapa bila aku baru bertemu denganmu 5 tahun lagi, 10 tahun lagi bahkan jika baru bisa bertemu denganmu sesudah mati pun. Tidak masalah.
Aku hanya tidak ingin jatuh cinta lagi sebelum itu. Sebab jatuh cinta itu melelahkan, menderita dan mengganggu ketaatanku pada Allah.
Atas nama menjaga ketaatan pada Allah, aku sungguh ingin bertemu denganmu.
Kau adalah mimpi terbesarku saat ini, tahukah?
Monday, December 3, 2012
New Entry
Alhamdulillah, senang bisa buka blog ini lagi..
Hampir setahun tidak memposting tulisan, bahkan hampir lupa dengan password blog, akhirnya hari ini bisa ngepost lagi. Yay! :D
Hari ini sengaja bela-belain ke warnet untuk menulis ini. Padahal 2 hari lagi saya ujian. Dan saya harus belajaar... -_-. Oh, it's very crazy. Since radiology is all about pictures!
Saya termasuk tipe orang yang kecerdasan spasialnya jelek. Sangat tidak menyukai gambar. Sangat tidak suka dengan imajinasi.
Belajar radiologi itu bagi saya seperti belajar dimensi tiga waktu kelas 1 SMA, atau seperti belajar resultan gaya di pelajaran fisika SMA, atau seperti belajar sudut2 dalam lingkaran di pelajaran matematika kelas 3 SMP. Oh, it's annoying.Atau contoh paling gampang, tes spasial di psikotest, yang kubus diputar balik letaknya.
Lupakan radiologi, sekarang kembali ke topik awal.
Em, sebenarnya dari kemarin-kemarin banyak sekali yang ingin saya tulis di blog. Sejak berbulan-bulan yang lalu malah.
Sejak skripsi saya beres. Lalu kejadian2 selama saya menanti koas. Tentang aktiivtas saya selama 2 bulan penuh yang sangat hectic pasca skripsi, lalu tentang latihan-latihan fisik untuk wanadri, tentang bagaimana saya habis-habisan mempersiapkan wanadri tapi tidak lulus di tes medis, tentang kesendirian saya selama menunggu koas, I'm all by myself. Tentang renungan-renungan saya kala itu saat saya hampir sepanjang waktu bersahabat dengan diri saya sendiri, lalu diskusi2 tentang pernikahan yang sangat intens dengan kakak saya, bagaimana saya mulai serius memikirkan tentang menikah di waktu kosong itu. Ya, saya sangat FOKUS memikirkan pernikahan saat menunggu koas, mungkin karena tidak terlalu banyak beban pikiran, bagaimana saat saya hampir menemukan jodoh saya, kejadian2 saat pulang ke rumah selama 2 bulan, renungan2 panjang saat ramadhan terutama saat i'tikaf, dan tentang keputusan menikah!
Bagaimana saat itu saya memberanikan diri minta izin kepada orang tua untuk menikah dan yang paling menegangkan adalah bagaimana saya memulai prosesnya meskipun akhirnya saya gagalkan sendiri.
Lalu tentang koas. Tentang stase pertama bedah. Hal-hal yang saya temukan di bedah.
Tentang rumah yang saat ini saya tinggali di Bandung. Tentang orang-orang yang saat ini berada di dekat saya...
Tentang hal-hal yang sangat saya syukuri. Mulai dari rumah yang hangat, orang-orang baik yang berada di dekat saya, dll.
Tentang saat-saat tertentu dalam keseharian saya yang ingin saya ceritakan karena saya ingin mencatatnya dan mengenangnya suatu hari nanti. Jadi perlu diceritakan sesegera mungkin sebelum lupa.
Tentang rencana2 masa depan. Tentang NC, tentang ortho, wanadri, dan menikah (tentunya).
Saya juga pengen cerita tentang beberapa hal yang harus saya siapkan sebelum saya benar-bear menikah. Semacam 'standar kompetensi' yang harus saya capai. Hehe
dan.... apalagi ya?
Itu dulu aja deh. Setidaknya sekarang sudah lumayan plong karena sudah menulis sebagian (ga kaya kemarin dimana saya 'bernafsu' banget mau membuka blog ini :D)
Hampir setahun tidak memposting tulisan, bahkan hampir lupa dengan password blog, akhirnya hari ini bisa ngepost lagi. Yay! :D
Hari ini sengaja bela-belain ke warnet untuk menulis ini. Padahal 2 hari lagi saya ujian. Dan saya harus belajaar... -_-. Oh, it's very crazy. Since radiology is all about pictures!
Saya termasuk tipe orang yang kecerdasan spasialnya jelek. Sangat tidak menyukai gambar. Sangat tidak suka dengan imajinasi.
Belajar radiologi itu bagi saya seperti belajar dimensi tiga waktu kelas 1 SMA, atau seperti belajar resultan gaya di pelajaran fisika SMA, atau seperti belajar sudut2 dalam lingkaran di pelajaran matematika kelas 3 SMP. Oh, it's annoying.Atau contoh paling gampang, tes spasial di psikotest, yang kubus diputar balik letaknya.
Lupakan radiologi, sekarang kembali ke topik awal.
Em, sebenarnya dari kemarin-kemarin banyak sekali yang ingin saya tulis di blog. Sejak berbulan-bulan yang lalu malah.
Sejak skripsi saya beres. Lalu kejadian2 selama saya menanti koas. Tentang aktiivtas saya selama 2 bulan penuh yang sangat hectic pasca skripsi, lalu tentang latihan-latihan fisik untuk wanadri, tentang bagaimana saya habis-habisan mempersiapkan wanadri tapi tidak lulus di tes medis, tentang kesendirian saya selama menunggu koas, I'm all by myself. Tentang renungan-renungan saya kala itu saat saya hampir sepanjang waktu bersahabat dengan diri saya sendiri, lalu diskusi2 tentang pernikahan yang sangat intens dengan kakak saya, bagaimana saya mulai serius memikirkan tentang menikah di waktu kosong itu. Ya, saya sangat FOKUS memikirkan pernikahan saat menunggu koas, mungkin karena tidak terlalu banyak beban pikiran, bagaimana saat saya hampir menemukan jodoh saya, kejadian2 saat pulang ke rumah selama 2 bulan, renungan2 panjang saat ramadhan terutama saat i'tikaf, dan tentang keputusan menikah!
Bagaimana saat itu saya memberanikan diri minta izin kepada orang tua untuk menikah dan yang paling menegangkan adalah bagaimana saya memulai prosesnya meskipun akhirnya saya gagalkan sendiri.
Lalu tentang koas. Tentang stase pertama bedah. Hal-hal yang saya temukan di bedah.
Tentang rumah yang saat ini saya tinggali di Bandung. Tentang orang-orang yang saat ini berada di dekat saya...
Tentang hal-hal yang sangat saya syukuri. Mulai dari rumah yang hangat, orang-orang baik yang berada di dekat saya, dll.
Tentang saat-saat tertentu dalam keseharian saya yang ingin saya ceritakan karena saya ingin mencatatnya dan mengenangnya suatu hari nanti. Jadi perlu diceritakan sesegera mungkin sebelum lupa.
Tentang rencana2 masa depan. Tentang NC, tentang ortho, wanadri, dan menikah (tentunya).
Saya juga pengen cerita tentang beberapa hal yang harus saya siapkan sebelum saya benar-bear menikah. Semacam 'standar kompetensi' yang harus saya capai. Hehe
dan.... apalagi ya?
Itu dulu aja deh. Setidaknya sekarang sudah lumayan plong karena sudah menulis sebagian (ga kaya kemarin dimana saya 'bernafsu' banget mau membuka blog ini :D)
Subscribe to:
Posts (Atom)