ini cerita tentang dua orang, kisah nyata, anggaplah namanya Fulan dan Fulanah. (Kenapa sih tiap perumpamaan nama selalu aja dikasih fulan-fulanah? hahah)
di-post buat pengingat aja, mengingatkan bahwa ada cerita seperti ini. Cerita seorang akhwat yang menjaga dirinya.
Sms fulan kepada fulanah.
"Assalamu'alaikum. Fulanah, seperti yg pernah fulanah bilang, saya sudah tega bohongi fulanah selama 'kepengurusan'. Dan fulanah tersakiti. Makin lama makin sakit.
Agar fulanah tidak lebih tersakiti lg, mungkin lebih baik saya tidak menghubungi fulanah dalam bentuk apapun.
Tugas saya sbg 'koordinator' sudah selesai. Dan itu bs berarti tak ada lg yg harus dibahas. Saya mohon maaf atas semua kesalahan yg pernah saya lakukan. Dan saya mohon pamit.
Wassalamu'alaikum
jawaban fulanah:
wa'alaikumussalam
sampai jumpa
jika suatu hari nanti ada takdir ktemu, semoga masing2 kita sudah lebih baik
saya harap saya bisa bertemu orang hebat, lebih baik dari kesan pertama saya
Fulanah mencatat dalam hatinya (dan diabadikan di sticky notes laptopnya)
ful, ada seseorang yang pernah jatuh cinta sama kamu
tapi dia terhalang memberikan cintanya padamu karena dia harus memprioritaskan cinta kepada Tuhannya dan kepada dirinya sendiri
selain itu ada penghalang lain, Fulan yang dia cintai tidak mencintai dirinya sendiri dan tidak pula mencintai Tuhannya
dia tidak ingin membagi cintanya pada orang seperti itu
satu harapannya: fulan mencintai dirinya dan mencintai Tuhannya
lalu dia berdoa: semoga suatu hari fulan dipertemukan dengan orang yang pernah jatuh cinta dengannya itu, atau kalau tidak dipertemukan dengan orang dengan karakter yang sama dengan orang yang pernah jatuh cinta padanya
sejak saat itu fulan tidak pernah lagi bertemu dengan fulanah. Tidak ada komunikasi.
Saya menuliskan ini karena mengapresiasi keputusan fulanah untuk menjaga dirinya. Dia memprioritaskan cinta kepada Allah atas keinginan fitrahnya (fitrah sebelum bermetamorfosis jadi nafsu)
Ini kisah nyata, dan saya masih ingat waktu fulanah mengatakan pada fulan via sms, "Allah melihat apa yang kita kerjakan, ful"
Semoga fulanah ini tetap istiqamah menjaga dirinya sampai dia bertemu dengan takdir terbaiknya :)
recording life
Sunday, January 13, 2013
Wednesday, January 9, 2013
Kau yang di Sana (3)
Menemukan orang yang tepat itu....Aku sudah menduga ini tidak akan mudah. Prosesnya panjang, berliku dan memakan waktu lama...
azizah, 23 april 2012
Nanti, saat tiba waktunya kita bertemu, aku akan menceritakan padamu betapa melelahkannya perjuanganku hingga aku menemukanmu. Mulai dari mimpi yang kususun, lalu karakter-karakter yang kurumuskan, cobaan-cobaan hidup yang menyertai pembentukan karakter itu sampai aku menemukan kebutuhan akan kau.
Prosesnya lama sekali.
Lalu renungan-renungan panjang, doa-doa, shalat hajat, tahajjud, i'tikaf meminta dipertemukan denganmu dalam pernikahan yang barakah.
Nanti akan kuceritakan padamu betapa rumitnya proses aku 'mencarimu'. Usaha pertama untuk menemukanmu adalah belajar.
Aku dipertemukan dengan orang-orang, lalu aku mempelajari karakternya. Menyesuaikannya dengan kebutuhanku dan dengan kriteria yang sudah digariskan Islam tentang pendamping yang baik, yaitu yang baik agamanya.
Awalnya aku belajar, sebuah proses yang sangat melelahkan. Benar-benar melelahkan. Salah satunya karena aku bergelut dengan dugaan. Meraba-raba, apakah ini orangnya yang dipersiapkan Allah untukku? Pertanyaan itu semacam teka-teki besar. Supaya menemukan jawabannya aku harus mengumpulkan clue-clue kecil hingga akhirnya aku mendapatkan jawaban akhir. Yang tadi sepertinya 'iya' ternyata tidak, tidak, tidak.
Asal kau tau, perjuangan mengumpulkan jawaban demi jawaban kecil itu benar-benar melelahkan! Aku membelinya dengan kesabaran, usaha dan doa. Usaha yang paling berat adalah usaha menjaga diri.
Nanti, bila kita bertemu, kita adalah pasangan yang sering kusebut-sebut sebagai enzim-substrat. Berikatan dengan prinsip 'lock and key'. Kita hanya berpasangan berdua, tidak bisa dengan yang lain, karena kita mempunyai kesamaan struktur kimia.
Ketika enzim berikatan dengan substrat, barulah reaksi kimia dapat berlangsung dengan kecepatan ratusan kali lipat dibandingkan tanpa reaksi tanpa enzim.
Aku membayangkan betapa luar bisanya hidup kita setelah kita bertemu nanti.
Kita adalah pasangan sampai ke akhirat, insya Allah. Di dunia ini kita menjadi sahabat, berjalan berdampingan, menjadi partner untuk orientasi akhirat kita, yaitu rumah yang kita rencanakan di surga.
Pernikahan kita, seperti yang sering kusebut, bukanlah terminal perhentian, tapi awal dari sebuah perjalanan menuju kehidupan yang kekal, dimana di asna kita belajar, memperbaiki diri, menjadi yang terbaik sesuai potensi yang Allah berikan pada kita.
Kita akan mendidik anak-anak dengan sebaik-baik didikan.
Tahukah kau, aku memimpikanmu sejak lamaa sekali. Di diary kutulis. Nanti kulihatkan diary itu padamu.
Sejak pertama aku memimpikanmu sampai saat aku bertemu denganmu nanti, penuh cobaan.
Aku sungguh penasaran wajahmu seperti apa.
Nanti jika akhirnya kita bertemu, setelah ayah menyerahkanku padamu, maka itu adalah hari paling mengharukan, akhir dari perjuanganku selama ini.
Rabbana hablana min azwajina wa dzurriyatina qurrota a'yun. Waj'alna lil muttaqina imaama....
Saturday, January 5, 2013
dr. Rima :))
31 Desember 2011
Rima, apakabar?Sekarang tanggal 31 desember 2011, sehari lagi tahun 2012.Sekarang juga musim UAS, masih ingat kita dulu belajar osce bareng? Belajar compre PHOP bareng, final bhp bareng di bale.Trus kita lulus osce bareng-bareng.Sekarang uas terakhir, kita belajar osce bareng waktu itu hanya tinggal kenangan.Cepat sembuh ya.
5 Januari 2013
Rima, apakabar?
Sekarang sudah tahun 2013. Sekarang juga musim UAS di nangor. Tapi kita ga ikutan UAS di nangor lagi. Sekarang kita sudah koas.
Masih ingat dulu kita belajar osce bareng? belajar compre PHOP bareng, final BHP bareng di bale.
Trus kita lulus osce bareng-bareng.
Sekarang sudah tidak ada osce lagi. Kita belajar osce bareng wakt itu hanya tinggal kenangan...
7 bulan lagi ya?
dan kamu jadi dokter. Kita berpisah. Beneran berpisah.
Tapi aku sama sekali tidak sedih dengan kenyataan itu.
Meskipun aku hanya bisa bertemu denganmu selama 7 bulan lagi, aku tidak sedih.
Barusan aku membaca diary mei 2011 menceritakan betapa hancurnya aku waktu itu karena aku kehilangan sahabat yang paling aku cintai.
Tidak terasa, hampir 2 tahun saja.
Hehe.
Everyting's alright.
dan kita tetap bersahabat baik :)
Persahabatan kita tidak seperti dulu, waktu kita belajar osce bareng, atau waktu aku sering main ke kosanmu, nginap karena aku galau di kosan.
Pertemanan kita juga tidak seperti dulu, waktu kamu di pembinaan dan sesudahnya.
Sekarang kita sudah bertumbuh. Banyak hal yang terjadi.
dan yang terpenting adalah kita sudah mulai memasuki fase berbeda.
Bukan fase mahasiswa-aktivis-anak DKM lagi.
Kebutuhan psikis-hidup kita sudah mulai bergeser.
Hai, meskipun aku sangat kehilangan sahabat yang kusayangi, alhamdulillah aku berhasil melaluinya, meski dengan terseok-seok begitu.
Dan aku pun bertumbuh. Kelak, aku akan menemukan sahabat beneran. Yang akan menemaniku setiap hari. Setiap saat. Sahabat hati sampai ke akhirat, insya Allah.
Aku belajar dari kehilangan, bahwa ada pola pikir yang harus aku bentuk.
Udah hampir 2 tahun, sudah hampir satu semester pula aku koas, lama banget kan?
Semoga waktu yang sekian bisa membuat kamu mengerti, hal-hal yang waktu itu kamu tidak mengerti
bahwa....
aku tidak seperti yang kamu khawatirkan...
sekarang, setelah aku punya orientasi lain dan aku menceritakan semuanya padamu, pasti kamu mengerti kan? Jelas sekali.
dan semoga prasangka-prasangka yang dulu itu sekarang sudah lurus :))
do you know how precious our friendship to me?
despite the hurts, aku belajar banyak. Sangat banyak.
sejak kita mulai deket banget jaman2 toefl di bale itu, 3.5 tahun dan tahun2 yang berat dalam kurun waktu itu, aku sungguh belajar sangat banyak! Dan aku bertumbuh karenanya :))
our complicated friendship is very unique, right?
we are destined to be friends.
*Semangat ujian anak. Semangat 7 bulan lagi, dr.rima :))
Hidup di Jatinangor
Ceritanya sekarang saya lagi kangen sama nangor.
Ini gara-gara gastritis saya kambuh et causa pola makan sembarangan. Saya pun teringatlah dengan hidup yang teratur di nangor dimana saya ga pernah kena gastritis!
Ini cukup menyedihkan. Setelah 22 tahun hidup bahagia tanpa gastritis, bahkan saya dengan bangga mengatakan pada orang-orang (lebay) bahwa saya ga pernah tau tuh, apa itu sakit maag?
Sekarang saya mengalaminya, dan rasanya enak banget T_T
Hidup di nangor itu teratur.
Subuh saya bangun, kadang olahraga, menembus udara jatinangor yang sangat dingin. Lalu siap-siap berangkat kuliah. Kalau sempat, sarapan dengan nasi yang dimasak sendiri di rice cooker.
7.15 mandi - 7.30 dandan - 7.45 berangkat. Nyampe ruang lecture pas jam 8. Kalo lewat dari jam 7.45 biasanya naik ojek.
Kadang-kadang jadwal dimajukan 15 menit. Maksudnya mandi jam 7.00, karena yang 15 menit itu mau digunakan untuk fotokopi LI.
Kegiatan saya sesederhana ini:
Jam 8 lecture - jam 9 tutorial - jam 11.30 istirahat, biasanya dipakai makan siang, atau balik ke kosan beli lauk di warteg kesayangan saya yang supermurah-bersih-sehat - jam 1 siang masuk lagi untuk lab act atau skill's lab.
Jam setengah 4 sore pulang, sholat dulu di asyifa, pulang ke kosan. Kadang ke griya beli sayur, atau melakukan hal2 ringan di luar belajar. Nyuci, beres2 kamar, mendengarkan musik, fotokopi bahan kuliah, ngobrol ke kamar sebelah, atau sekedar melamun.
Habis magrib biasanya pergi ke meja belajar. Meja belajar saya yang sangat luas, kesayangan saya banget di kamar yang paling luas-sehat-ventilasi bagus di kosan saya dulu. Pondok Kaca.
Lalu saya belajar. Atau dengan malas sekedar buka2 buku tanpa membacanya, lalu mendengarkan musik, nonton atau melamun (lagi). Atau tilawah.
Biasanya setelah tilawah saya lebih fokus belajar.
Malam hari itu bisanya mengerjakan LI, membuka2 laptop dan lain-lain.
Bikin LI lumayan menguras waktu sih.
Setelah itu tidur, bangun besok pagi, berangkat kuliah lebih santai. Karena besoknya itu adalah hari selasa atau kamis. Pulangnya lebih santai. Bisa santai atau engga sih. Tergantung LI sebanyak apa. Kalau LI banyak, meskipun badan santai, bisanya pikiran ga santai. Tetep mikirin LI. Meskipun benar-benar mengerjakannya baru jam 9-an ke atas :p
Besoknya bangun pagi lagi, siap2 jam 7, lalu ngopi LI, ke kampus- lecture - tutorial - istirahat - skill's lab/lab act/pulang - sholat ashar di asyifa - pulang ke kosan.
Sabtu atau minggu benar-benar bersantai. Kadang supaya hari sabtu itu full dinikmati, saya sengaja nyuci jumat sore s/d malam.
Kadang liat2 buku lagi (tanpa membaca atau sedikit membaca) mereview materi-materi yang belum saya kuasai di tutorial atau yang pengen saya tau.
Besok minggu mulai memikirkan Lab act buat senin. Minggu malam menyetrika baju untuk dipakai seminggu ke depan dengan sangat rapih, lalu dimasukkan ke lemari saya yang superbesar itu.
Ingat lagi, biasanya beli lauk di warteg hijau kesayangan dekat kosan yang harganya murah. Menu lauk favorit saya adalah ikan tongkol harga 3.500, sayur singkong 1000 ditambah perkedel kentang 500. Total 5000. Murah kan?
Ah, kangen pisan sama nangor.
Kosan yang luas dan nyaman... Kampus yang serba teratur...
Ga ada jaga kaya di koas atau jam 7 udah masuk tanpa sempat sarapan sama sekali karena belum ada yang buka. Bahkan jam 6 harus follow up, atau jam 4!
Ga ada perusakan ritme sikardian kaya di koas et causa jaga.
Kalaupun ada perusakan cicardian rhythm di nangor itu semata2 karena kemalasan diri sendiri atau yang agak syar'i adalah skripsi. Hehe.
Aduh, kangen pisuun sama nangor.
Beneran kangen!
Ini gara-gara gastritis saya kambuh et causa pola makan sembarangan. Saya pun teringatlah dengan hidup yang teratur di nangor dimana saya ga pernah kena gastritis!
Ini cukup menyedihkan. Setelah 22 tahun hidup bahagia tanpa gastritis, bahkan saya dengan bangga mengatakan pada orang-orang (lebay) bahwa saya ga pernah tau tuh, apa itu sakit maag?
Sekarang saya mengalaminya, dan rasanya enak banget T_T
Hidup di nangor itu teratur.
Subuh saya bangun, kadang olahraga, menembus udara jatinangor yang sangat dingin. Lalu siap-siap berangkat kuliah. Kalau sempat, sarapan dengan nasi yang dimasak sendiri di rice cooker.
7.15 mandi - 7.30 dandan - 7.45 berangkat. Nyampe ruang lecture pas jam 8. Kalo lewat dari jam 7.45 biasanya naik ojek.
Kadang-kadang jadwal dimajukan 15 menit. Maksudnya mandi jam 7.00, karena yang 15 menit itu mau digunakan untuk fotokopi LI.
Kegiatan saya sesederhana ini:
Jam 8 lecture - jam 9 tutorial - jam 11.30 istirahat, biasanya dipakai makan siang, atau balik ke kosan beli lauk di warteg kesayangan saya yang supermurah-bersih-sehat - jam 1 siang masuk lagi untuk lab act atau skill's lab.
Jam setengah 4 sore pulang, sholat dulu di asyifa, pulang ke kosan. Kadang ke griya beli sayur, atau melakukan hal2 ringan di luar belajar. Nyuci, beres2 kamar, mendengarkan musik, fotokopi bahan kuliah, ngobrol ke kamar sebelah, atau sekedar melamun.
Habis magrib biasanya pergi ke meja belajar. Meja belajar saya yang sangat luas, kesayangan saya banget di kamar yang paling luas-sehat-ventilasi bagus di kosan saya dulu. Pondok Kaca.
Lalu saya belajar. Atau dengan malas sekedar buka2 buku tanpa membacanya, lalu mendengarkan musik, nonton atau melamun (lagi). Atau tilawah.
Biasanya setelah tilawah saya lebih fokus belajar.
Malam hari itu bisanya mengerjakan LI, membuka2 laptop dan lain-lain.
Bikin LI lumayan menguras waktu sih.
Setelah itu tidur, bangun besok pagi, berangkat kuliah lebih santai. Karena besoknya itu adalah hari selasa atau kamis. Pulangnya lebih santai. Bisa santai atau engga sih. Tergantung LI sebanyak apa. Kalau LI banyak, meskipun badan santai, bisanya pikiran ga santai. Tetep mikirin LI. Meskipun benar-benar mengerjakannya baru jam 9-an ke atas :p
Besoknya bangun pagi lagi, siap2 jam 7, lalu ngopi LI, ke kampus- lecture - tutorial - istirahat - skill's lab/lab act/pulang - sholat ashar di asyifa - pulang ke kosan.
Sabtu atau minggu benar-benar bersantai. Kadang supaya hari sabtu itu full dinikmati, saya sengaja nyuci jumat sore s/d malam.
Kadang liat2 buku lagi (tanpa membaca atau sedikit membaca) mereview materi-materi yang belum saya kuasai di tutorial atau yang pengen saya tau.
Besok minggu mulai memikirkan Lab act buat senin. Minggu malam menyetrika baju untuk dipakai seminggu ke depan dengan sangat rapih, lalu dimasukkan ke lemari saya yang superbesar itu.
Ingat lagi, biasanya beli lauk di warteg hijau kesayangan dekat kosan yang harganya murah. Menu lauk favorit saya adalah ikan tongkol harga 3.500, sayur singkong 1000 ditambah perkedel kentang 500. Total 5000. Murah kan?
Ah, kangen pisan sama nangor.
Kosan yang luas dan nyaman... Kampus yang serba teratur...
Ga ada jaga kaya di koas atau jam 7 udah masuk tanpa sempat sarapan sama sekali karena belum ada yang buka. Bahkan jam 6 harus follow up, atau jam 4!
Ga ada perusakan ritme sikardian kaya di koas et causa jaga.
Kalaupun ada perusakan cicardian rhythm di nangor itu semata2 karena kemalasan diri sendiri atau yang agak syar'i adalah skripsi. Hehe.
Aduh, kangen pisuun sama nangor.
Beneran kangen!
Friday, January 4, 2013
Subconscious Mind
That person exists in my subconscious mind.
For decade.
I don't know why
I don't know why...
I thought I had forgotten him already.
But...
But...
I'm suprisingly deceived by my own subsconscious mind
and it never wish to remove that person.
For decade.
I don't know why
I don't know why...
I thought I had forgotten him already.
But...
But...
I'm suprisingly deceived by my own subsconscious mind
and it never wish to remove that person.
Tuesday, January 1, 2013
Seandainya
Seandainya aku bisa menjaga diriku tanpa menikah
Seandainya aku bisa menjaga ketaatanku pada Allah tanpa menikah
Seandainya aku bisa bersahabat dengan diriku, kuat dengan diriku tanpa memerlukan sahabat lain, atau pendamping hidup...
Seandainya ada jaminan bahwa aku tidak akan diusik oleh perasaan bernama cinta
Jika demikian...
Ada segudang mimpi yang ingin kukejar
-Wanadri dan mendaki puncak-puncak tertinggi di dunia
-Menjadi seorang orthopedist
-Mungkin sekolah ke luar negeri, setinggi yang aku bisa, belajar sepuas yang aku bisa
-Bekerja di daerah konflik
-Menjemput kematianku yang indah, syahid.
Aku sungguh ingin menikmati diriku lebih lama. Menikmati hidupku, kesibukanku, belajar sepuas-puasnya, pergi ke tempat-tempat yang kuinginkan, ke puncak-puncak gunung, ke kampus-kampus, rumah sakit, kamar operasi...
Tapi ternyata tidak,
Kebutuhan fitrah itu tidak bisa dibunuh dengan cara apapun
Juga tidak bisa dialihkan dengan cara apapun...
Seandainya aku bisa menjaga ketaatanku pada Allah tanpa menikah
Seandainya aku bisa bersahabat dengan diriku, kuat dengan diriku tanpa memerlukan sahabat lain, atau pendamping hidup...
Seandainya ada jaminan bahwa aku tidak akan diusik oleh perasaan bernama cinta
Jika demikian...
Ada segudang mimpi yang ingin kukejar
-Wanadri dan mendaki puncak-puncak tertinggi di dunia
-Menjadi seorang orthopedist
-Mungkin sekolah ke luar negeri, setinggi yang aku bisa, belajar sepuas yang aku bisa
-Bekerja di daerah konflik
-Menjemput kematianku yang indah, syahid.
Aku sungguh ingin menikmati diriku lebih lama. Menikmati hidupku, kesibukanku, belajar sepuas-puasnya, pergi ke tempat-tempat yang kuinginkan, ke puncak-puncak gunung, ke kampus-kampus, rumah sakit, kamar operasi...
Tapi ternyata tidak,
Kebutuhan fitrah itu tidak bisa dibunuh dengan cara apapun
Juga tidak bisa dialihkan dengan cara apapun...
Monday, December 31, 2012
Resolusi 2013
Besok 1 Januari.
Sebelum besok, saya mau flash back resolusi 2 tahun terakhir.
2011: Belajar memaafkan dan melupakan kesalahan orang lain
2012: Berlapang dada menerima segala sesuatu yang ditetapkan Allah.
Tidak terbawa perasaan.
Untuk ketiga resolusi itu saya merasa banyak ujian tentangnya. Seakan-akan Allah menyambut baik apa yang ingin saya bangun, lalu memberi ujian untuk menumbuhkannya.
Wallahualam apakah saya sudah 'lulus' dan bisa menyandang predikat sebagai "Pemaaf dan melupakan kesalahan orang lain", "Orang yang berlapang dada" atau orang yang "Cukup logis, realistis dan tidak terbawa perasaan".
Saya yakin ini butuh proses belajar yang long life time. Seumur hidup saya tetap belajar soal ini.
Menulis ini untuk mengingat bahwa saat saya mendeklarasikan resolusi tersebut terasa jelas ujian yang diberikan Allah sesudahnya.
2011: Belajar memaafkan dan melupakan kesalahan orang lain
Seingat saya ada 3 ujian berat di sini yang mungkin saya simpan di hati saja. Tidak ditulis di sini karena terlalu pribadi.
2012: Berlapang dada menerima segala sesuatu
Tahun 2012 saya dihadapkan pada beberapa hal yang tidak terduga sebelumnya dan terpaksa saya terima.
Tentang koas saya yang gagal hanya karena beberapa station osce. Tentang remedial osce pertama yang gagal hanya karena saya lupa 'greet the patient'- menyapa pasien. Kemudian osce berikutnya yang gagal dan gagal sehingga pada akhirnya saya harus menunda koas selama 6 bulan lebih.
Kemudian sebuah peristiwa tak terlupakan waktu saya wisuda. Tentang seseorang yang mengagetkan saya, tidak menyangka dia akan berkarakter seperti itu. Seseorang yang selama ini saya kira adalah sebaik-baiknya figur ternyata memiliki sisi yang harus saya terima dengan lapang. Yang kemudian menjadi pembelajaran bagi saya bagaimana bersikap seterusnya.
Lalu kenyataan-kenyataan yang saya temui di keluarga saat pulang.
Tentang ibu saya dan kakak sulung saya. Di sini untuk pertama kalinya saya menemukan bahwa hukum sosial itu ternyata sungguh kejam. Miniatur pertama saya temukan di keluarga sendiri. Ini jadi semacam warning bahwa nanti di dunia luas setelah saya jadi dokter mungkin akan mengalami hal yang lebih parah dari ini.
Pertama kali terloncat dari saya kata-kata "my family is not a safe place anymore"
Tentang mimpi.
Kali ini saya dihadapkan pada kaidah bahwa ternyata usaha maksimal belum tentu cukup untuk mencapai mimpi. Diperlukan doa yang benar-benar intens (dan izin Allah tentunya)
Ini tentang mimpi saya ikut PDW.
Saya mati-matian dan habis-habisan latihan fisik untuk PDW ternyata tidak lulus.
Saya tidak lulus bukan di tes fisik, tapi di tes medis.
Ini adalah saat dimana saya optimis hanya pada usaha tapi kurang berdoa.
Berusaha semaksmalnya bahkan melebihi dari orang lain, tapi tidak mendapatkan impian.
Tentang PDW saya ingat status hakam tentang saya "Ada orang yang sudah berusaha keras. Sangat keras. Tapi tidak diberikan jalannya. Ada pula yang malas-malasan seakan-akan tidak niat namun Allah berikan jalannya. Apapun itu saya yakin pasti yang terbaik"
Ini termasuk hal yang paling menyedihkan bagi saya dan paling sulit saya terima.
Mungkin karena awalnya saya menganggap untuk ikut pdw, kekuatan fisiklah yang paling penting. Maka saya pun 'menghajar' fisik mati-matian sehingga pada saat seleksi saya sakit. Ini kemudian menjatuhkan hasil medis saya.
Sungguh tidak disangka ternyata hasil tes fisik sama sekali tidak diperhatikan. Medis justru.
Apa boleh buat. Saya kehilangan mimpi menjadi AMW 2 tahun lebih lambat.
Jika masih ada kesempatan dan izin Allah mungkin saya baru bisa ikut PDW lagi tahun 2014. Mungkin juga impian untuk menjadi wanadri itu tidak pernah tercapai. Sebab ada impian yang lebih dahsyat dan mendesak daripada itu yang mungkin akan menggagalkan saya ikut PDW 2014. Tapi keduanya masih unclear. Mana yang Allah kehendaki.
Terakhir di tahun 2012 tentang 'berlapang dada menerima segala sesuatu' adalah koas.
Alhamdulillah untuk masalah koas ini saya sudah cukup 'terlatih' berlapang dada sebelumnya. Ada beberapa hal yang sebenarnya tidak saya kehendaki tapi terjadi dan saya terpaksa menerima dan berdamai dengannya.
Salah satunya waktu itu saya sempat berujar, "ya Allah, don't do this to me" sambil menangis. Tapi bagaimanapun, saya tetap harus menjalaninya. Sampai sekarang saya belum menemukan hikmah mengapa Allah menempatkan 'kondisi' itu pada saya.
Satu lagi tentang usaha dan doa.
Belajar dari ketidaklulusan PDW, saya mempunyai hajat yang lain. Hajat tersebut saya jemput dengan ikhtiar dan doa yang menurut saya sebenar-benar pasrah. Sepanjang ramadhan dan terutama 10 hari terakhir saat i'tikaf dan hari-hari sesudahnya. Namun, doa dan ikhtiar itu belum Allah izinkan.
Semacam belajar untuk bersabar.
Wallahualam. Barangkali belum Allah kabulkan sekarang. Mungkin Allah kabulkan nanti atau Allah kabulkan segera dengan yang lebih baik.
Sekian di tahun 2012.
Resolusi 2013
Awalnya terpikir ingin resolusi ini "Prestatif" dalam beberapa hal untuk masa depan saya.
Namun, setelah dipikir dan direnungi condonglah saya pada resolusi ini "Belajar menjadi istri yang baik"
Sebetulnya ini sekaligus doa agar tahun 2013 saya bisa menikah. Namun tidak mengapa jika Allah belum mengizinkan, yang jelas tahun ini tetap menjadi pembelajaran buat saya.
Ya, belajar menjadi istri yang baik.
Dalam segala hal. Manajerial rumah tangga, manajerial hubungan, manajerial psikologi dan seterusnya.
Wish my dream come true, soon :))
Sebelum besok, saya mau flash back resolusi 2 tahun terakhir.
2011: Belajar memaafkan dan melupakan kesalahan orang lain
2012: Berlapang dada menerima segala sesuatu yang ditetapkan Allah.
Tidak terbawa perasaan.
Untuk ketiga resolusi itu saya merasa banyak ujian tentangnya. Seakan-akan Allah menyambut baik apa yang ingin saya bangun, lalu memberi ujian untuk menumbuhkannya.
Wallahualam apakah saya sudah 'lulus' dan bisa menyandang predikat sebagai "Pemaaf dan melupakan kesalahan orang lain", "Orang yang berlapang dada" atau orang yang "Cukup logis, realistis dan tidak terbawa perasaan".
Saya yakin ini butuh proses belajar yang long life time. Seumur hidup saya tetap belajar soal ini.
Menulis ini untuk mengingat bahwa saat saya mendeklarasikan resolusi tersebut terasa jelas ujian yang diberikan Allah sesudahnya.
2011: Belajar memaafkan dan melupakan kesalahan orang lain
Seingat saya ada 3 ujian berat di sini yang mungkin saya simpan di hati saja. Tidak ditulis di sini karena terlalu pribadi.
2012: Berlapang dada menerima segala sesuatu
Tahun 2012 saya dihadapkan pada beberapa hal yang tidak terduga sebelumnya dan terpaksa saya terima.
Tentang koas saya yang gagal hanya karena beberapa station osce. Tentang remedial osce pertama yang gagal hanya karena saya lupa 'greet the patient'- menyapa pasien. Kemudian osce berikutnya yang gagal dan gagal sehingga pada akhirnya saya harus menunda koas selama 6 bulan lebih.
Kemudian sebuah peristiwa tak terlupakan waktu saya wisuda. Tentang seseorang yang mengagetkan saya, tidak menyangka dia akan berkarakter seperti itu. Seseorang yang selama ini saya kira adalah sebaik-baiknya figur ternyata memiliki sisi yang harus saya terima dengan lapang. Yang kemudian menjadi pembelajaran bagi saya bagaimana bersikap seterusnya.
Lalu kenyataan-kenyataan yang saya temui di keluarga saat pulang.
Tentang ibu saya dan kakak sulung saya. Di sini untuk pertama kalinya saya menemukan bahwa hukum sosial itu ternyata sungguh kejam. Miniatur pertama saya temukan di keluarga sendiri. Ini jadi semacam warning bahwa nanti di dunia luas setelah saya jadi dokter mungkin akan mengalami hal yang lebih parah dari ini.
Pertama kali terloncat dari saya kata-kata "my family is not a safe place anymore"
Tentang mimpi.
Kali ini saya dihadapkan pada kaidah bahwa ternyata usaha maksimal belum tentu cukup untuk mencapai mimpi. Diperlukan doa yang benar-benar intens (dan izin Allah tentunya)
Ini tentang mimpi saya ikut PDW.
Saya mati-matian dan habis-habisan latihan fisik untuk PDW ternyata tidak lulus.
Saya tidak lulus bukan di tes fisik, tapi di tes medis.
Ini adalah saat dimana saya optimis hanya pada usaha tapi kurang berdoa.
Berusaha semaksmalnya bahkan melebihi dari orang lain, tapi tidak mendapatkan impian.
Tentang PDW saya ingat status hakam tentang saya "Ada orang yang sudah berusaha keras. Sangat keras. Tapi tidak diberikan jalannya. Ada pula yang malas-malasan seakan-akan tidak niat namun Allah berikan jalannya. Apapun itu saya yakin pasti yang terbaik"
Ini termasuk hal yang paling menyedihkan bagi saya dan paling sulit saya terima.
Mungkin karena awalnya saya menganggap untuk ikut pdw, kekuatan fisiklah yang paling penting. Maka saya pun 'menghajar' fisik mati-matian sehingga pada saat seleksi saya sakit. Ini kemudian menjatuhkan hasil medis saya.
Sungguh tidak disangka ternyata hasil tes fisik sama sekali tidak diperhatikan. Medis justru.
Apa boleh buat. Saya kehilangan mimpi menjadi AMW 2 tahun lebih lambat.
Jika masih ada kesempatan dan izin Allah mungkin saya baru bisa ikut PDW lagi tahun 2014. Mungkin juga impian untuk menjadi wanadri itu tidak pernah tercapai. Sebab ada impian yang lebih dahsyat dan mendesak daripada itu yang mungkin akan menggagalkan saya ikut PDW 2014. Tapi keduanya masih unclear. Mana yang Allah kehendaki.
Terakhir di tahun 2012 tentang 'berlapang dada menerima segala sesuatu' adalah koas.
Alhamdulillah untuk masalah koas ini saya sudah cukup 'terlatih' berlapang dada sebelumnya. Ada beberapa hal yang sebenarnya tidak saya kehendaki tapi terjadi dan saya terpaksa menerima dan berdamai dengannya.
Salah satunya waktu itu saya sempat berujar, "ya Allah, don't do this to me" sambil menangis. Tapi bagaimanapun, saya tetap harus menjalaninya. Sampai sekarang saya belum menemukan hikmah mengapa Allah menempatkan 'kondisi' itu pada saya.
Satu lagi tentang usaha dan doa.
Belajar dari ketidaklulusan PDW, saya mempunyai hajat yang lain. Hajat tersebut saya jemput dengan ikhtiar dan doa yang menurut saya sebenar-benar pasrah. Sepanjang ramadhan dan terutama 10 hari terakhir saat i'tikaf dan hari-hari sesudahnya. Namun, doa dan ikhtiar itu belum Allah izinkan.
Semacam belajar untuk bersabar.
Wallahualam. Barangkali belum Allah kabulkan sekarang. Mungkin Allah kabulkan nanti atau Allah kabulkan segera dengan yang lebih baik.
Sekian di tahun 2012.
Resolusi 2013
Awalnya terpikir ingin resolusi ini "Prestatif" dalam beberapa hal untuk masa depan saya.
Namun, setelah dipikir dan direnungi condonglah saya pada resolusi ini "Belajar menjadi istri yang baik"
Sebetulnya ini sekaligus doa agar tahun 2013 saya bisa menikah. Namun tidak mengapa jika Allah belum mengizinkan, yang jelas tahun ini tetap menjadi pembelajaran buat saya.
Ya, belajar menjadi istri yang baik.
Dalam segala hal. Manajerial rumah tangga, manajerial hubungan, manajerial psikologi dan seterusnya.
Wish my dream come true, soon :))
Subscribe to:
Posts (Atom)