Saturday, December 3, 2011

Dalam Dekapan Ukhuwah

backsound: instrumen richard clayderman

karena beda antara kau dan aku sering jadi sengketa
karena kehormatan diri sering kita tinggikan di atas kebenaran
karena satu kesalahanmu padaku seolah menghapus ejuta kebaikan yang lalu
wasiat Sang Nabi itu rasanya berat sekali:
"jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara"

mungkin lebih baik kita berpisah sementara, sejenak asja
menjadi kepompong dan menyendiri
berdiri malam-malam, bersujud dalam-dalam
bertafakkur bersama ima yang menerangi hati
hingga tiba waktunya menjadi kupu-kupu yang terbang menari
melantun kebaikan di antara bunga, menebar keindahan pada dunia

lalu dengan rindu kita kembali ke dalam dekapan ukhuwah
mengambil cinta dari langit dan menebarkannya di bumi
dengan persaudaraan suci; sebening prasangka, selembut nuran, sehangat semangat, senikmat berbagi dan sekokoh janji
-cover belakang-



"... Dan Allah yang mempersatukan hati para hamba beriman. Jikapun kau nakahkan perbendaharaan bumi seluruhnya untuk mengikat hari mereka, takkan bisa kau himpunkan hati mereka. Tetapi Allah-lah yang telah menyatupadukan mereka" (QS Al- Anfal: 63)
-hlm 15-



persaudaraan adalah mukjizat, wadah yang saling berikatan
dengannya Allah persatukan hati-hati berserakan
saling bersaudara, saling merendah lagi memahami
saling mencintai dan saling berlembut hati
-Sayyid Quthb-
-hlm 60-




Demikianlah. Mereka yang terhubung ke langit, terhubung dengan manusia dalam kata cinta yang berwujud da'wah. "Da'wah adalah cinta," kata Syaikhut Tarbiyah Rahmat Abdullah. Dan dalam dekapan ukhuwah, cinta akan meminta semuanya dari dirimu. Sampai pikiranmu. Sampai perhatianmu. Berjalan, dudk dan tidurmu. Bahkan di tengah lelapmu, isi mimpimu pun tentang da'wah. Tentang ummat yang kau cintai.
-hlm 73-



"Alangkah indahnya," begitu Ibnu Sirin memulai cerita, "Kisah dua orang bersaudara di jalan Allah yang pada mulanya saling mencintai. Lalu hubungan di antara mereka terganggu.
Satu waktu mereka bertemu, "Mengapa kiranya," tanya lelaki pertama, "Hari-hari ini aku melihatmu seolah engkau berpaling dan menjauhiku?"
"Telah sampai padaku," jawab orang yang kedua, "Sesuatu tentang dirimu. Dan engkau pasti tak menyukainya"
"Kalau begitu, aku tak peduli," lelaki pertama itu tersenyum.
"Mengapa?"
"Karena jika apa yang engkau dengar itu adalah benar sebuah kesalahan yang telah aku lakukan, aku tahu engkau pasti akan memaafkannya. Dan jika berita itu tidak benar, engkau pasti tidak akan menerimanya"
"Setelah itu," kata Ibunu Sirin menutup kisah, "Mereka kembali pada ukhuwah yang indah."
-hlm 79-



Dalam hubungan-hubungan yang kita jalin di kehidupan,
setiap orang adalah guru bagi kita.

Ya, setiap orang. Siapapun mereka. Yang baik, juga yang jahat. Betapapun apa yang mereka berikan pada kita selama ini hanyalah luka, rasa sakit, kepedihan, dan aniaya, mereka tetaplah guru-guru kita. Bukan karena mereka orang-orang yang bijaksana. Melainkan karena kitalah yang sedang belajar untuk menjadi bijaksana.

Mereka mungkin tanah gersang. Dan kitalah murid yang belajar untuk menjadi bijaksana. Kita belajar untuk menjadi embun pada paginya, awan teduh bagi siangnya, dan rembulan yang menghias malamnya.

Tetapi barangkali, kita justru adalah tanah yang paling gersang. Lebih gersang dari sawah yang kerontang. Lebih cengkar dari lahan kering di kemarau yang panjang. Lebih tandus dari padang rumput yang terbakar dan hangus. Maka bagi kita sang tanah gersang, selalu ada kesempatan menjadi murid yang bijaksana.

Seperti matahari yang tak hendak dekat-dekat bumi karena khawatir nyalanya bisa memusnahkan kehidupan. Seperti gunung api yang lahar panasnya kelak menjelma lahan subur, sejuk menghijau berwujud hutan.

Dan seperti batu cadas yang memberi kesempatan lumut untuk tumbuh di permukaannya. Dia izinkan sang lumut menghancurkan tubuhnya, melembutkan kekerasannya. Demi terciptanya butir-butir tanah. Demi tersedianya unsur hara agar pepohonan berbuah.
-hlm 82-



semua orang yang ada dalam hidup kita
masing-masingnya, bahkan yang paling menyakiti kita
diminta untuk ada di sana
agar cahaya kita dapat menerangi jalan mereka
-hlm 83-



Dalam dekapan ukhuwah, kita menginsyai bahwa diri kita adalah orang yang paling memungkinkan untuk diubah agar segala hubungan menjadi indah. Kita sadar bahwa diri kitalah yang ada dalam genggaman untuk diperbaiki dandibenahi. Kita mafhum, bahwa jiwa kitalah yang harus dijelitakan agar segala bayang-bayang yang menghuni para cermin menjadi memesona. Dalam dekapan ukhuwah, biarkan sesama peyakin sejati sekedar memantulkan kembali keelokan akhlak yang kita hadirkan.
Dalam dekapan ukhuwah, segalanya adalah cermin.
-hlm 91-


menghadapi orang sulit selalu merupakan masalah
terutama jika orang sulit itu adalah diri kita sendiri
jika kita merasa bahwa semua orang memiliki masalah dengan kita,
tidakkah kita curiga bahwa diri kita inilah masalahnya?
-hlm 143-



Kau mengatakan,
"Dalam tiap takdir kesalahanmu padaku,
Aku senantiasa berharap takdir kemaafanku
mengiringinya."

Kujawab lirih, "Dalam takdir kejatuhanmu, Semoga tertakdir pula uluran tanganku."

Maka kita pun bersenandung,
"Dalam takdir ukhuwah kita,
Semoga terbangun kokoh menara cahaya,
tempat kita bercengkerama
Kelak di surga".
-hlm 165-




Dalam dekapan ukhuwah, Allah akan menganugerahkan kepada kita sahabat-sahabat yang kadang lebih mampu menilai kita daripada diri kita sendiri. Secara pribadi, kadang kita memang bias dan tidak jujur dalam mengenali diri. Kita menilai diri sendiri berdasar apa yang bisa kita perbuat. Orang lain menilainya sesuai dengan apa yang telah kita lakukan.
-hlm215-



Dalam dekapan ukhuwah, kepedulian yang terlembut bukanlah sekedar rasa ingin tahu. Kepedulian yang terlembut kadang tampil dalam bentuk kesadaran bahwa mungkin kita belum perlu tahu sampai tibanya suatu waktu. Maka kesabaran akan menuntun kita untuk tahu, di saat yang paling tepat, dengan cara yang paling indah.
-hlm 241-



Rasulullah bersabda dalam riwayat Al Bukhari, Abu Dawud, Ibnu Hibban, dan Al Hakim, "Tidaklah dua orang saling mencintai karena Allah, kecuali yang paling besar cintanya di antara keduanya adalah yang lebih mulia" atau dalam redaksi Ath Thabrani, "Tiadalah dua sahabat saling mencintai karena Allah, ketika mereka berjauhan, kecuali yang lebih besar cintanya kepada saudaranya adalah yang lebih dicintai oleh Allah."
-hlm 243-



dalam dekapan ukhuwah
kita merasakan kehangatan sahabat

dia tahu kelemahan kita,
tetapi menunjukkan kekuatan kita

dia merasakan ketakutan kita,
tetapi membangkitkan keyakinan kita

dia melihat kekhawatiran kita,
tetapi membebaskan jiwa kita

dia mengenal ketidakmampuan kita,
tetapi memberi kita kesempatan

-hlm 333-



Dalam dekapan ukhuwah, ujian sejati hubungan, bukan hanya seberapa setia diri kita kepada para sahabat di kala mereka diterpa kegagalan. Ia juga ditunjukkan pada seberapa antusias kita merayakan keberhasilan-keberhasilan mereka.

Maka dalam dekapan ukhuwah, saatnya merayakan keberhasilan atau hal kecil apapun bersama orang-orang yang kita cintai. Mereka ada di sini tak hanya untuk berbagi duka, namun juga bahagia.

Dalam dekapan ukhuwah, Ibnu 'Abbas mengajari kita makna perayaan ukhuwah. Hargailah setiap kebermaknaan kecil yang dirasakan oleh orang lain, meski bagi kita itu adalah perkara yang kurang berarti. Itulah akhlak keulamaan.

Jadilah 'panitia' bagi tiap perayaan kebajikan dalam dekapan ukhuwah.
-hlm 392-394-



sesungguhnya lubang jarum takkan terlalu sempit
bagi dua orang yang saling mencintai
adapun bumi, takkan cukup luas
bagi dua orang yang saling membenci
-Al Khalil ibn Ahmad-
-hlm 397-




Dalam dekapan ukhuwah, mari mentakjubi kisah-kisah orang yang tulus hati. Mereka berbahagia ketika mampu memberikan kemanfaatan kepada sesama. Mereka yang merasa bangga bisa menjadi bagian dari kebahagiaan orang lain. Mereka telah merasakan nikmatnya berbagi
selalu ada yang menakjubkan soal nikmatnya berbagi...
-hlm 399-401-



saudara seiman itu adalah dirimu
hanya saja dia itu orang lain
sebab kalian saling percaya
maka kalian adalah satu jiwa
hanya saja kini sedang hinggap di jasad yang berbeda
-Al Kindi-
-hlm 410-




Dalam dekapan ukhuwah, rasa saling percaya adalah juga puncak tertinggi kualitas hubungan. "Dipercaya," kata penulis George MacDonald, "Adalah satu penghargaan yang lebih tinggi dari sekedar dicintai. Sebab kepercayaan adalah penanda puncak bagi segala hubungan yang memungkinkan di antara para insan."
-hlm 417-

No comments:

Post a Comment