"bila mungkin ada luka tersenyumlah, bila mungkin tawa bersabarlah
karna air mata yang tak abadi, akan hilang dan berganti" -opick-
hari ini hari sabtu. Tanggal 15 oktober 2011
Saya bangun sangat pagi hari ini. Bisa menikmati subuh yang bening itu, subhanallah banget.
Kenapa saya pagi ini menulis adalah, saya teringat pagi yang sama 5 bulan yang lalu. 14 Mei 2011.
Saat itu saya pulang...
Kepulangan saya sangat tiba-tiba.
Malam sebelumnya saya beli tiket pesawat, besok paginya saya pulang.
Ini adalah sekelumit ingatan saya tentang hari itu.
Jumat sore, pulang kuliah
"Ijh insya Allah udah gapapa da lim, meskipun kalau ngikutin keinginan pasti ingin pulang, tapi kalau mikirin nasehat ni lah dan niamah, ijh ga tega pulang. Akhirnya ijh mutusin ga akan pulang, aja da lim"
"Yakin ga jadi pulang?"
"yakin, demi menuruti kata ni amah dan ni lah"
"berarti ijh harus konsekuen sama keputusan ijah, tau artinya konsekuen?"
saya menggeleng di seberang telepon.
"konsekuen berarti harus menanggung semua konsekuensi atas keputusan itu. Jangan mengambil keputusan atas saran orang lain karena yang akan menanggung konsekuensinya adalah ijah sendiri. Ambil keputusan sendiri"
Hati saya serta merta berubah
"Kalau gitu saya pulang, malam ini juga"
"oke, cek ATM, uda ngirim uang sekarang"
Saya yang saat itu baru pulang kuliah, belum sempat ganti baju, langsung loncat pergi ke agen travel terdekat. Mencari tiket pesawat.
Saya masih ingat, di jalan saya ketemu Chicy (teman belajar bareng). Dengan berat hati saya mengatakan bahwa malam ini saya ga bisa ikut belajar bareng malam ini dan beberapa hari berikutnya. Saya mau pulang.
Chicy mengangguk dan tersenyum simpati. "Gapapa" katanya.
Sore itu, selagi mencari tiket pesawat, saya ditelepon ni amah. Ni amah tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya pada saya. Sangat kecewa. Maafkan saya niamah.
Dua agen travel pertama yang saya datangi semuanya tutup. Saya tidak tau lagi dimana agen travel. Waktu itu saya sempat berpikir, mungkinkah ini artinya Allah tidak izin saya pulang?
Lalu saya naik angkot coklat, berharap sepanjang jalan menemukan agen travel. Saya ga tau mau menuju kemana, pokoknya sampai ketemu agen travel.
Akhirnya saya ketemu agen travel di simpang cileunyi. Alhamdulillah...
Jadilah saya beli tiket pesawat itu. Satu juta.
Orang yang menjual tiket tersebut tampak terheran-heran dengan saya. Mungkin karena pulang yang sangat mendadak itu. Ya sudahlah.
Magrib saya baru pulang dari agen travel. Waktu itu saya me-sms seorang teman, mengatakan sesuatu. Saya ingin mengatakan saat ini bahwa sms itu saya kirim dengan menanggalkan semua ego dan meletakkan perasaan saya di sebersih-bersih niat baik. Tidak dibalas.
Saya tidak akan tulis sms itu di sini meskipun saya masih ingat. Dengan membaca tulisan ini lagi kelak, dengan sendirinya saya akan ingat apa yang saya tulis di sms waktu itu. Tidak mungkin saya lupa.
Saya pun pulang. Tapi tidak langsung ke kosan, saya ke kosan Chicy. Sholat magrib, lalu ngobrol sebentar. Merumuskan beberapa target belajar meskipun beberapa hari ke depan tidak bisa belajar bareng. Terakhir, Chicy memeluk saya, membisikkan beberapa kata semangat, semoga setelah pulang saya segera pulih...
Saya pun pulang lah ke kosan. Saat itu hujan lebat. Sms saya dibalas, dengan balasan yang... (ini cuma saya yang tau)
Sesampai di kosan, saya masih mengirim beberapa sms ke beliau, dan dibalas beberapa sms juga. Semua balasannya sungguh sungguh menyakitkan bagi saya. Saya terima dengan lapang dada. Gapapa, setelah ini saya tidak akan mengingatnya lagi. Saya benar-benar akan melupakannya.
Hujan tidak lama. Setelah itu saya pergi k kosan Ike. Ingin bertemu dengan Ike sebentar. Sejujurnya ingin tilawah bareng. Ingin mengambil sedikit kekuatan untuk hati saya yang remuk. Saya udah separuh jalan menuju kosan Ike waktu itu, tapi Ike menolak bertemu saya.
Sisa malam itu saya sibuk mengurus persiapan pulang besok pagi. Mulai dari membereskan pakaian sampai menelepon taksi. Saya memutuskan ga jadi diantar Ike ke BSM, saya naik taksi saja.
Tiara, tetangga sebelah kamar saya, kaget luar biasa saat saya kasih tau kalau besok pagi saya pulang. Awalnya dia tidak percaya. Mungkin muka saya sebegitu datarnya sehingga dia menyangka saya bercanda.
Dia sempat bertanya, saya bawa oleh-oleh apa untuk pulang? Saya jawab, saya tidak bawa apa-apa. Saya ga punya sisa uang lagi.
Malam itu Tiara mau nginap di kosan temannya. Sebelum pergi nginap, dia membeli 2 brownies. Satu dititip untuk ibunya, guru kesenian saya waktu SMA, satu lagi untuk saya bawa pulang ke rumah. Setelah membeli brownies pun, dia masih bertanya tak percaya, "iyo bana uni ka pulang?"
-bersambung-
No comments:
Post a Comment