“Kalau antum meniatkan pernikahan itu sebagai ibadah, maka antum gak akan masalah walau pun menikah bukan dengan Nita. Karena fokus ibadahnya bukan pada menikahi Nita, tapi pada menikahnya itu sendiri. Keikhlasan antum menikah karena Allah itu diuji saat antum gagal menikah dengan Nita. Kalau antum ikhlas, maka antum gak akan kecewa karena masih banyak kesempatan. Tapi kalau antum kecewa berat, maka niat antum adalah cuma mau menyenangkan diri dengan menikah dengan Nita, bukan sebagai penghambaan kepada Allah. Begitu Hep.”
kata-kata tersebut saya dapatkan dari sebuah cerpen di web islamedia. Kalau ada yang mau baca ini link-nya: Jodohku di Tangan Pembinaku
ceritanya lebih kurang begini, seorang laki-laki bernama Hepi jatuh cinta dan berniat menikah. Dia mempersiapkan segalanya untuk menikah terutama finansial. Akhirnya dia benar-benar siap dan tinggal mengutarakan niat tersebut kepada murobbi-nya untuk memfasilitasi ta'arufnya dengan perempuan yang dia cintai tersebut. Namun, sayang beribu sayang, perempuan yang dia dambakan sudah dilamar oleh murobbinya sendiri. Kutipan di atas adalah kata-kata sahabatnya.
membaca kutipan tersebut, saya ingat tweet saya sebulan yang lalu
"jika orientasinya adalah Allah, siapapun orangnya tidak masalah kan? yang penting orientasi sama *tapi hati masih berat >.<"
Saya paham betul dengan paragraf tersebut dan apa yang saya tulis di tweet saya. Ya, saya sangat paham.
Tapi... (ada tapi lagi..harusnya mah ga usah pake tapi)
tapi masih berat rasanya buat saya. Ah, entahlah. Pengennya orientasi Allah dan dikasih yang saya inginkan. Tapi saya jadi kabur membedakan mana yang benar-benar niat dan mana yang "mau menyenangkan diri sendiri" seperti kutipan di atas.
Dua hal yang jadi pertanyaan besar bagi saya dan terkadang agak menyiksa karena saking penasarannya adalah umur berapa saya menikah dan dengan siapa.
Seringkali saya menghubungkan beberapa event dalam hidup saya dengan jodoh. Berusaha meraba-raba atau menebak orang yang sudah ditetapkan Allah sebagai jodoh saya.
Dua hal itu kadang bikin galau. Galau parah.
Saya punya keinginan memang. Ya, lebih kurang seperti cerita di atas. Ingin menikah dengan si "X". Tapi kalau saya renungi lagi, apakah X tersebut adalah tujuan hidup saya? Bagaimana kalau Allah kasih saya yang lain, misalnya. Atau si X menikah dengan teman dekat saya sendiri. Akankah saya kecewa? Akankah saya menangis?
Jika memang saya menikah dengan X, lalu di dalam pernikahan saya menemukan sesuatu pada diri X yang mengecewakan saya sehingga menghapus semua rasa cinta yang saya punya sebelum menikah dengannya, siapkah saya dengan kehambaran hidup yang saya alami setelah itu? Karena secara tidak sadar X itu menjadi tujuan saya, dan jika tujuan itu mengecewakan, selesai sudah. Berakhir sampai di situ. Setelah itu hidup saya tidak akan nyaman lagi dengan orang tersebut.
Sekali lagi saya memahami betul pentingnya orientasi dalam hidup termasuk dalam hal orang yang akan kita nkahi.
Saya menerima prinsip itu dengan mudah pada saat hati saya sehat. Artinya saya sedang tidak dilanda perasaan merah jambu.
Tapi pada keadaan diri saya sedang sepsis, dimana virus merah jambu menggerogoti semua sel jantung saya, prinsip itu sangatlah berat seperti yang saya tulis di tweet saya sebulan yang lalu. Saat itu saya sedang sepsis.
Dan kembali saya menyadari bahwa pada dasarnya sifat manusia pengen instan. Pengen mendapatkan keinginannya secepat mungkin. Begitu halnya dengan saya. Pengennya menikah secepat saya menginginkannya dan pengennya dengan orang yang saya inginkan. Ketika Allah memberikan sesuatu di luar keinginan, rasanya untuk menerima hal tersebut harus menguras habis kesabaran. Padahal Allah punya alasan di balik itu. Hanya kita kurang sabar saja.
Semoga sampai kapanpun orientasi tetaplah Allah dan dikuatkan untuk orientasi tersebut. Siapapun orangnya tidak masalah (seharusnya)
Wallahualam bishawab.

kata-kata tersebut saya dapatkan dari sebuah cerpen di web islamedia. Kalau ada yang mau baca ini link-nya: Jodohku di Tangan Pembinaku
ceritanya lebih kurang begini, seorang laki-laki bernama Hepi jatuh cinta dan berniat menikah. Dia mempersiapkan segalanya untuk menikah terutama finansial. Akhirnya dia benar-benar siap dan tinggal mengutarakan niat tersebut kepada murobbi-nya untuk memfasilitasi ta'arufnya dengan perempuan yang dia cintai tersebut. Namun, sayang beribu sayang, perempuan yang dia dambakan sudah dilamar oleh murobbinya sendiri. Kutipan di atas adalah kata-kata sahabatnya.
membaca kutipan tersebut, saya ingat tweet saya sebulan yang lalu
"jika orientasinya adalah Allah, siapapun orangnya tidak masalah kan? yang penting orientasi sama *tapi hati masih berat >.<"
Saya paham betul dengan paragraf tersebut dan apa yang saya tulis di tweet saya. Ya, saya sangat paham.
Tapi... (ada tapi lagi..harusnya mah ga usah pake tapi)
tapi masih berat rasanya buat saya. Ah, entahlah. Pengennya orientasi Allah dan dikasih yang saya inginkan. Tapi saya jadi kabur membedakan mana yang benar-benar niat dan mana yang "mau menyenangkan diri sendiri" seperti kutipan di atas.
Dua hal yang jadi pertanyaan besar bagi saya dan terkadang agak menyiksa karena saking penasarannya adalah umur berapa saya menikah dan dengan siapa.
Seringkali saya menghubungkan beberapa event dalam hidup saya dengan jodoh. Berusaha meraba-raba atau menebak orang yang sudah ditetapkan Allah sebagai jodoh saya.
Dua hal itu kadang bikin galau. Galau parah.
Saya punya keinginan memang. Ya, lebih kurang seperti cerita di atas. Ingin menikah dengan si "X". Tapi kalau saya renungi lagi, apakah X tersebut adalah tujuan hidup saya? Bagaimana kalau Allah kasih saya yang lain, misalnya. Atau si X menikah dengan teman dekat saya sendiri. Akankah saya kecewa? Akankah saya menangis?
Jika memang saya menikah dengan X, lalu di dalam pernikahan saya menemukan sesuatu pada diri X yang mengecewakan saya sehingga menghapus semua rasa cinta yang saya punya sebelum menikah dengannya, siapkah saya dengan kehambaran hidup yang saya alami setelah itu? Karena secara tidak sadar X itu menjadi tujuan saya, dan jika tujuan itu mengecewakan, selesai sudah. Berakhir sampai di situ. Setelah itu hidup saya tidak akan nyaman lagi dengan orang tersebut.
Sekali lagi saya memahami betul pentingnya orientasi dalam hidup termasuk dalam hal orang yang akan kita nkahi.
Saya menerima prinsip itu dengan mudah pada saat hati saya sehat. Artinya saya sedang tidak dilanda perasaan merah jambu.
Tapi pada keadaan diri saya sedang sepsis, dimana virus merah jambu menggerogoti semua sel jantung saya, prinsip itu sangatlah berat seperti yang saya tulis di tweet saya sebulan yang lalu. Saat itu saya sedang sepsis.
Dan kembali saya menyadari bahwa pada dasarnya sifat manusia pengen instan. Pengen mendapatkan keinginannya secepat mungkin. Begitu halnya dengan saya. Pengennya menikah secepat saya menginginkannya dan pengennya dengan orang yang saya inginkan. Ketika Allah memberikan sesuatu di luar keinginan, rasanya untuk menerima hal tersebut harus menguras habis kesabaran. Padahal Allah punya alasan di balik itu. Hanya kita kurang sabar saja.
Semoga sampai kapanpun orientasi tetaplah Allah dan dikuatkan untuk orientasi tersebut. Siapapun orangnya tidak masalah (seharusnya)
Wallahualam bishawab.
No comments:
Post a Comment