Saturday, November 26, 2011

14 Mei 2011 (part 2)

Sehari sebelum pulang



13 mei 2011



Sekarang jam 23.40.



Hari ini sebelum tidur saya punya beberapa tugas yang harus dikerjakan.

Bikin tulisan
LI (learning issue) tentang fisiologi bladder utk tutorial
Saya belum tilawah.

Saya ga tau apakah sekarang saya capek atau ga.

Seharusnya saya capek. Karena saya menangis banyak sekali hari ini.

Banyak juga yang terjadi sepanjang hari ini.

Banyak yang berkecamuk di pikiran saya yang ingin saya ceritakan.

Saya pikir tidak cukup menceritakan semuanya dalam waktu 20 menit. Mungkin saya akan menghabiskan beberapa jam.

Gapapa sebenarnya. Cuma besok saya mungkin kesiangan subuh (lagi), telat datang skilab, pusing saat kuliah, dll.

Yasudahlah. Dijalani aja dulu.

Mulai.

Hari ini saya bangun kesiangan.

Seingat saya pas saya bangun kamar saya udah terang. Tapi ga ingat persisnya jam berapa. Karena merasa bangun kesiangan, dan merasa mengabaikan jam beker saya, saya menyesal dan justru tidur lagi.

Akhirnya saya baru bangkit jam setengah delapan dan sholat subuh. =(

Saya ingat hari ini ada janji ketemu mba sari. Tapi saya masih punya cucian yang belum dibilas. Saya berpikir harus menyelesaikan cucian itu dan menjemurnya sebelum pergi ketemu mba sari. Sebisanya.

Singkat cerita, saya bisa menyelesaikan cucian itu dan datang ke psikologi tepat waktu (tapi harus naik ojek). Namun karena mba sari sms kalo mba sari nyampe psikologi jam stengah 10, saya jadi agak nyantai. Ga jadi naik ojek, tapi naik angkot. Sempat ke ATM dulu.

Tadi pagi waktu saya kecewa bangun kesiangan, saya mengeluh, aduh, kenapa bangun kesiangan lagi? Yah, meski semalam saya tidur jam 2, tapi sebelum tidur saya melakukan “protective mechanism” yaitu dengan tilawah dan membaca surat al mulk sebelum tidur. Cuci muka, sikat gigi, wudhu, bahkan sebelum tidur dengan sadar menyempatkan diri membaca ayat kursi. Harusnya saya tidak “ditindih” setan sehingga saya kesiangan sampai sesiang ini.

Yasudahlah.

Saya pun ketemu mba Sari.

Saya agak sulit menceritakan detail bagaimana saya dengan mba Sari.

Awalnya saya mengkondisikan diri saya tenang. Lalu saya bercerita. Mba Sari memberikan feedback. Sesekali saya menangis saat mendengar penjelasan mba Sari.

Satu hal yang saya tangkap dari perbincangan itu, bahwa saya memang sangat rumit orangnya. Masalah saya sekarang pun terlalu rumit di pi kiran saya. Ah, mungkin saya saja yang bikin rumit.

Mba Sari bilang, dengan kondisi saya saat ini saya memang butuh psikolog.

Saya berpikir saya harus menyiapkan sejumlah uang. Jadi sekarang saya harus bilang kepada keluarga saya terus terang beginilah keadaan saya, saya butuh psikolog dan butuh biaya untuk itu.

Waktu ketemu mba Sari saya dapat pencerahan. Namun, pas pulang tetap saja saya menangis. Saya sulit mengatakan saya menangisi apa.

Dalam perjalanan pulang, yang saya pikirkan adalah, habis ini saya harus nelpon keluarga memberitahukan bahwa saya butuh psikolog dan uang. Selain itu, satu2nya yang saya rasakan, saya capek, pikiran saya mumet dan saya butuh istirahat.

Sampai di kamar, sekitar setengah sebelas lebih saya langsung berbaring. Kalau mau tidur masih ada 2 jam sebelum kuliah jam 1. Tapi waktu berbaring tetap saja saya pusing dan tidak bisa tidur. Lalu saya sholat dua rakaat.

Ternyata wudhu lumayan menyegarkan saya (yang tadi rasanya panas ga jelas). Mungkin sekarang bisa tidur lebih nyaman, pikir saya.

Saya coba lagi tidur, tapi tidak bisa. Lalu hp saya bunyi, ada sms. Saya buka sms dan saya ingat bahwa saya harus menelepon.

Orang pertama yang mau saya kabari adalah Ni Lah, kakak sulung saya. Disconnected, katanya.

Lalu, saya menelepon Mak Cik, bibi saya (adik ibu), dia tidak mengangkat.

Akhirnya saya telepon da Lim, kakak laki-laki saya, anak nomor empat.

Entah kenapa, pada detik pertama dia mengangkat telepon dan menyapa “halo” saya menangis.

Saya menangis hingga tidak bisa bersuara. Dengan susah payah saya sapa da Lim.

Kira-kira dialognya begini (seingat saya):

Da lim: ada apa?

Saya: (terisak-isak) lalu menjawab, “saya sedang susah”

Lalu menangis lagi beberapa lama tanpa bisa berkata apa-apa. Makin ditanya makin menangis.

Da lim: ada masalah apa?

Saya: ga ada

Da lim: lalu?

Menangis lagi.

Da lim: sekarang kamu dimana?

Saya: di kosan

Da lim: hari ini ada kuliah?

Saya: ada, jam 1

Setelah berhasil mengontrol diri, saya ceritakan

Saya: tadi saya habis dari psikologi ketemu dosen psikologi unpad, saya menceritakan masalah saya, beliau menyimpulkan saya harus ketemu psikolog. Mungkin 2 minggu lagi saya ketemu psikolog. Dan minggu-minggu berikutnya setelah ketemu psikolog, saya akan butuh uang.

Tapi saya ga punya uang (yang ini sambil menangis lagi).

Saya Cuma ngasih tau itu aja, bahwa saya butuh uang beberapa minggu ke depan di luar bulanan saya yang biasa. Tapi masalahnya sekarang saya harus memberitahu ini ke Umi (panggilan saya ke ibu), saya ga tau apa Umi bisa menerima atau tidak. Tapi saya harap bisa menerima.

Da lim: uda boleh tau ga apa masalahnya?

Saya: ga ada. (lalu menangis lagi)

Akhirnya menjawab

Saya: saya punya masalah yang complicated. Masalah kuliah, skripsi, masalah dengan orang lain. Masalah saya tidak bisa berkomunikasi dengan orang lain…

Da lim: komunikasi dengan orang lain? Selama ini komunikasi kamu baik-baik aja kok menurut uda.

Ini m alah bikin saya tambah nangis. Benarkah? Benarkah selama ini saya adalah seorang komunikator yang baik? Lalu kenapa saya bermasalah seperti ini sekarang? Siapa sebenarnya yang salah? Apakah semata-mata saya, atau karena kekurangan teman saya sehingga saya merasa tidak bisa berkomunikasi?



....sejak saat itu tulisan ini tidak pernah disambung lagi

1 comment:

  1. what's going on jah??
    mungkin tidak semua orang bisa memahami dan merasakan apa yang ijah rasakan.
    Tapi cuma ingin berbagi cerita, bahwa Ni pun pernah merasakan kekalutan super duper luar biasa sampai pernah tercetus ide lenyap saja dari muka bumi ini. Tapi tetap saja ada satu seruan dari hati kecil Ni yang mengatakan : Aku tidak boleh menyerah, tenang, sabarkan diri... sambil perlahan tertidur. Bangun tidur Ni mengadu sepuas2nya kepada Allah. Dan menyerah (*baca tawakal) kepada keputusan Allah sambil tertatih mencoba sedikit demi sedikit.

    Dan seperti yang sudah pernah Ni ceritakan di postingan blog yang kurang lebih ada 5 sesi itu, selalu hal yang membuat Ni bangkit lagi adalah keyakinan bahwa Allah sedang menyiapkan sesuatu yang indah untuk semua kekalutan ini.

    Kemudian ada mimpi2 dan cita2 yang menguatkan. Membayangkan tentang risalah tujuan utama perjuangan kita.
    Oh tidak.... tentu saja ini semua belum seberapa dibandingkan dengan permasalahan orang lain.
    Selalu berpositif thinking...

    hmmmm kebetulan Ni baca2 blog senior dan mendapatkan tulisan ini. Ada baiknya ijah baca :)

    ***
    Mengeluh

    by: da hasdi putra

    “Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir”. (QS. Al- Ma’arij: 19-21)

    Al-Qur’an selalu menggambarkan setiap realitas kehidupan, kematian, alam semesta, bahkan kiamat dengan gambaran yang mengagumkan, bahkan sangat tepat dan begitu menyentuh.

    Ungkapan Al-Qur’an sangat sempurna mengungkap watak asli manusia. Tidak ada yang melindungi manusia dari keluh kesah kecuali keimanan. Lebih mendalam lagi, Allah berikan solusi atas persoalan dan ujian kehidupan. Termasuk keluh kesah, letih lelah, remuk redam, seni kemungkinan dan apalagi, semua. Termasuk yang tidak tahu apa namanya.

    Ketika kita mengeluh, Ah…tidak mungkin..”
    ALLAH berfirman, “Jika Aku menghendaki sesuatu, cukup berkata “jadi”, maka jadilah.”
    (QS: Yasasin: 82)

    Ketika kita mengeluh, “Aku lelah..”
    Allah berfirman, “…dan Kami jadikan tidurmu utk istirahat.”
    (QS. An-Naba: 9 )

    Kita mengeluh, “Saya tak sanggup..”
    Allah berfirman, “Aku tdk membebani seseorang, melainkan sesuai kemampuannya.”
    (QS. Al-Baqarah: 286 )

    Kita mengeluh, Aku stress..”
    Allah berfirman, “Hanya dengan mengingat-KU, hati akan menjadi tenang.”
    (QS. Ar-Ra’d: 28)

    Kita mengeluh, “Aah…ini sia-sia belaka..”
    Allah berfirman, “Siapa yg mengerjakan kebaikan sebesar dzarah, niscaya ia akan melihat balasannya.”
    (QS. Al-Zalzalah: 7)

    Ketika kita mengeluh, “Ahh…tak seorangpun yg mau memberi dan membantuku..
    Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Berdoalah kepada-KU, niscaya Aku kabulkan untukmu.”
    (QS. Al-Mukmin: 60)

    Ketika kita mengeluh, “Ahh…betapa sedih hatiku..”
    Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “LA TAHZAN, INNALLAHA MA’ANA.”
    (QS. At-Taubah: 40)

    Lantas, berapa banyak lagi yg kita keluhkan.??
    “Sesungguhnya hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.”
    (QS. Yusuf : 86)

    ***

    Tetap lah tegar untuk semua ini jah. Karena tidak ada keberhasilan tanpa perjuangan, tak ada perjuangan tanpa ujian, tak ada ujian tanpa kegalauan yang membuat bimbang.... wallahualam...

    ReplyDelete