Monday, December 31, 2012

Resolusi 2013

Besok 1 Januari.
Sebelum besok, saya mau flash back resolusi 2 tahun terakhir.

2011: Belajar memaafkan dan melupakan kesalahan orang lain
2012: Berlapang dada menerima segala sesuatu yang ditetapkan Allah.
Tidak terbawa perasaan.


Untuk ketiga resolusi itu saya merasa banyak ujian tentangnya. Seakan-akan Allah menyambut baik apa yang ingin saya bangun, lalu memberi ujian untuk menumbuhkannya.
Wallahualam apakah saya sudah 'lulus' dan bisa menyandang predikat sebagai "Pemaaf dan melupakan kesalahan orang lain", "Orang yang berlapang dada" atau orang yang "Cukup logis, realistis dan tidak terbawa perasaan".
Saya yakin ini butuh proses belajar yang long life time. Seumur hidup saya tetap belajar soal ini.
Menulis ini untuk mengingat bahwa saat saya mendeklarasikan resolusi tersebut terasa jelas ujian yang diberikan Allah sesudahnya.

2011: Belajar memaafkan dan melupakan kesalahan orang lain
Seingat saya ada 3 ujian berat di sini yang mungkin saya simpan di hati saja. Tidak ditulis di sini karena terlalu pribadi.

2012: Berlapang dada menerima segala sesuatu
Tahun 2012 saya dihadapkan pada beberapa hal yang tidak terduga sebelumnya dan terpaksa saya terima.

Tentang koas saya yang gagal hanya karena beberapa station osce. Tentang remedial osce pertama yang gagal hanya karena saya lupa 'greet the patient'- menyapa pasien. Kemudian osce berikutnya yang gagal dan gagal sehingga pada akhirnya saya harus menunda koas selama 6 bulan lebih.

Kemudian sebuah peristiwa tak terlupakan waktu saya wisuda. Tentang seseorang yang mengagetkan saya, tidak menyangka dia akan berkarakter seperti itu. Seseorang yang selama ini saya kira adalah sebaik-baiknya figur ternyata memiliki sisi yang harus saya terima dengan lapang. Yang kemudian menjadi pembelajaran bagi saya bagaimana bersikap seterusnya.

Lalu kenyataan-kenyataan yang saya temui di keluarga saat pulang.
Tentang ibu saya dan kakak sulung saya. Di sini untuk pertama kalinya saya menemukan bahwa hukum sosial itu ternyata sungguh kejam. Miniatur pertama saya temukan di keluarga sendiri. Ini jadi semacam warning bahwa nanti di dunia luas setelah saya jadi dokter mungkin akan mengalami hal yang lebih parah dari ini.
Pertama kali terloncat dari saya kata-kata "my family is not a safe place anymore"

Tentang mimpi.
Kali ini saya dihadapkan pada kaidah bahwa ternyata usaha maksimal belum tentu cukup untuk mencapai mimpi. Diperlukan doa yang benar-benar intens (dan izin Allah tentunya)
Ini tentang mimpi saya ikut PDW.
Saya mati-matian dan habis-habisan latihan fisik untuk PDW ternyata tidak lulus.
Saya tidak lulus bukan di tes fisik, tapi di tes medis.
Ini adalah saat dimana saya optimis hanya pada usaha tapi kurang berdoa.
Berusaha semaksmalnya bahkan melebihi dari orang lain, tapi tidak mendapatkan impian.
Tentang PDW saya ingat status hakam tentang saya "Ada orang yang sudah berusaha keras. Sangat keras. Tapi tidak diberikan jalannya. Ada pula yang malas-malasan seakan-akan tidak niat namun Allah berikan jalannya. Apapun itu saya yakin pasti yang terbaik"
Ini termasuk hal yang paling menyedihkan bagi saya dan paling sulit saya terima.
Mungkin karena awalnya saya menganggap untuk ikut pdw, kekuatan fisiklah yang paling penting. Maka saya pun 'menghajar' fisik mati-matian sehingga pada saat seleksi saya sakit. Ini kemudian menjatuhkan hasil medis saya.
Sungguh tidak disangka ternyata hasil tes fisik sama sekali tidak diperhatikan. Medis justru.
Apa boleh buat. Saya kehilangan mimpi menjadi AMW 2 tahun lebih lambat.
Jika masih ada kesempatan dan izin Allah mungkin saya baru bisa ikut PDW lagi tahun 2014. Mungkin juga impian untuk menjadi wanadri itu tidak pernah tercapai. Sebab ada impian yang lebih dahsyat dan mendesak daripada itu yang mungkin akan menggagalkan saya ikut PDW 2014. Tapi keduanya masih unclear. Mana yang Allah kehendaki.

Terakhir di tahun 2012 tentang 'berlapang dada menerima segala sesuatu' adalah koas.
Alhamdulillah untuk masalah koas ini saya sudah cukup 'terlatih' berlapang dada sebelumnya. Ada beberapa hal yang sebenarnya tidak saya kehendaki tapi terjadi dan saya terpaksa menerima dan berdamai dengannya.
Salah satunya waktu itu saya sempat berujar, "ya Allah, don't do this to me" sambil menangis. Tapi bagaimanapun, saya tetap harus menjalaninya. Sampai sekarang saya belum menemukan hikmah mengapa Allah menempatkan 'kondisi' itu pada saya.

Satu lagi tentang usaha dan doa.
Belajar dari ketidaklulusan PDW, saya mempunyai hajat yang lain. Hajat tersebut saya jemput dengan ikhtiar dan doa yang menurut saya sebenar-benar pasrah. Sepanjang ramadhan dan terutama 10 hari terakhir saat i'tikaf dan hari-hari sesudahnya. Namun, doa dan ikhtiar itu belum Allah izinkan.
Semacam belajar untuk bersabar.
Wallahualam. Barangkali belum Allah kabulkan sekarang. Mungkin Allah kabulkan nanti atau Allah kabulkan segera dengan yang lebih baik.

Sekian di tahun 2012.


Resolusi 2013
Awalnya terpikir ingin resolusi ini "Prestatif" dalam beberapa hal untuk masa depan saya.
Namun, setelah dipikir dan direnungi condonglah saya pada resolusi ini "Belajar menjadi istri yang baik"
Sebetulnya ini sekaligus doa agar tahun 2013 saya bisa menikah. Namun tidak mengapa jika Allah belum mengizinkan, yang jelas tahun ini tetap menjadi pembelajaran buat saya.
Ya, belajar menjadi istri yang baik.
Dalam segala hal. Manajerial rumah tangga, manajerial hubungan, manajerial psikologi dan seterusnya.

Wish my dream come true, soon :))

No comments:

Post a Comment