Wednesday, January 9, 2013

Kau yang di Sana (3)

Menemukan orang yang tepat itu....Aku sudah menduga ini tidak akan mudah. Prosesnya panjang, berliku dan memakan waktu lama... 
azizah, 23 april 2012


 Nanti, saat tiba waktunya kita bertemu, aku akan menceritakan padamu betapa melelahkannya perjuanganku hingga aku menemukanmu. Mulai dari mimpi yang kususun, lalu karakter-karakter yang kurumuskan, cobaan-cobaan hidup yang menyertai pembentukan karakter itu sampai aku menemukan kebutuhan akan kau.
Prosesnya lama sekali.
Lalu renungan-renungan panjang, doa-doa, shalat hajat, tahajjud, i'tikaf meminta dipertemukan denganmu dalam pernikahan yang barakah.
Nanti akan kuceritakan padamu betapa rumitnya proses aku 'mencarimu'. Usaha pertama untuk menemukanmu adalah belajar.
Aku dipertemukan dengan orang-orang, lalu aku mempelajari karakternya. Menyesuaikannya dengan kebutuhanku dan dengan kriteria yang sudah digariskan Islam tentang pendamping yang baik, yaitu yang baik agamanya.
Awalnya aku belajar, sebuah proses yang sangat melelahkan. Benar-benar melelahkan. Salah satunya karena aku bergelut dengan dugaan. Meraba-raba, apakah ini orangnya yang dipersiapkan Allah untukku? Pertanyaan itu semacam teka-teki besar. Supaya menemukan jawabannya aku harus mengumpulkan clue-clue kecil hingga akhirnya aku mendapatkan jawaban akhir. Yang tadi sepertinya 'iya' ternyata tidak, tidak, tidak.
Asal kau tau, perjuangan mengumpulkan jawaban demi jawaban kecil itu benar-benar melelahkan! Aku membelinya dengan kesabaran, usaha dan doa. Usaha yang paling berat adalah usaha menjaga diri.

Nanti, bila kita bertemu, kita adalah pasangan yang sering kusebut-sebut sebagai enzim-substrat. Berikatan dengan prinsip 'lock and key'. Kita hanya berpasangan berdua, tidak bisa dengan yang lain, karena kita mempunyai kesamaan struktur kimia.
Ketika enzim berikatan dengan substrat, barulah reaksi kimia dapat berlangsung dengan kecepatan ratusan kali lipat dibandingkan tanpa reaksi tanpa enzim.
Aku membayangkan betapa luar bisanya hidup kita setelah kita bertemu nanti.
Kita adalah pasangan sampai ke akhirat, insya Allah. Di dunia ini kita menjadi sahabat, berjalan berdampingan, menjadi partner untuk orientasi akhirat kita, yaitu rumah yang kita rencanakan di surga.

Pernikahan kita, seperti yang sering kusebut, bukanlah terminal perhentian, tapi awal dari sebuah perjalanan menuju kehidupan yang kekal, dimana di asna kita belajar, memperbaiki diri, menjadi yang terbaik sesuai potensi yang Allah berikan pada kita.
Kita akan mendidik anak-anak dengan sebaik-baik didikan.

Tahukah kau, aku memimpikanmu sejak lamaa sekali. Di diary kutulis. Nanti kulihatkan diary itu padamu.
Sejak pertama aku memimpikanmu sampai saat aku bertemu denganmu nanti, penuh cobaan.
Aku sungguh penasaran wajahmu seperti apa.
Nanti jika akhirnya kita bertemu, setelah ayah menyerahkanku padamu, maka itu adalah hari paling mengharukan, akhir dari perjuanganku selama ini.


Rabbana hablana min azwajina wa dzurriyatina qurrota a'yun. Waj'alna lil muttaqina imaama....

No comments:

Post a Comment