Monday, December 31, 2012

Habibie-Ainun

manakala hati menggeliat mengusik renungan
mengulang kenangan saat cinta menemui cinta
suara semalam dan siang seakan berlagu
dapat aku dengar rindumu memanggil namaku
saat aku tak lagi di sisimu
kutunggu kau di keabadian...

aku tak pernah pergi
selalu ada di hatimu
kau tak pernah jauh
slalu ada di dalam hatiku
sukmaku berteriak menegaskan
kucinta padamu
terimakasih pada Maha Cinta menyatukan kita
saat aku tak lagi di sisimu
kutunggu kau di keabadian...


sedang mendengarkan lagu "Cinta Sejati"- soundtrack film Habibie-Ainun.

Film-nya lucu dan mengharukan. Saya mengagumi pernikahan mereka. Saya ingin punya pernikahan sekokoh itu.
Suka duka dijalani bersama.
Selalu saling menemani kemanapun pergi. Jika tidak fisik, hati selalu bersama.
Menjadi tim yang solid untuk mengatasi kesulitan-kesulitan.
Bukankah pernikahan itu adalah sebuah proses. Bukan tempat memetik hasil.
Justru kesulitan-kesulitan itulah yang membangun cinta dan romantisme.
Misalnya satu bagian dalam film itu ketika awal menikah mereka tinggal di flat yang sempit sehingga bersenggolan.
"Kamu gendut sekali, rumah jadi sempit" kata Habibie
"Iya, aku gendut, jelek, hitam kayak gula jawa, apalagi?"
Habibie tertawa.
"Maaf, saya belum punya cukup penghasilan untuk menyewa flat yang lebih besar untuk kamu"

Lalu kenapa masih banyak yang mengasumsikan menikah itu adalah tempat memetik hasil, duduk kongkow-kongkow menikmati apa yang sudah dipersiapkan selama ini, misalnya uang, rumah yang mewah, mobil, status dan lain-lain sehingga mutlak syarat harus mapan dulu sebelum menikah, harus lulus kuliah dulu, harus bekerja dulu, punya kendaraan, dll.

Bukankah Allah sudah menjamin, jika mereka (pasangan suami-istri) itu miskin, maka Allah akan mencukupkan dengan karunia-Nya, mencukupkan dengan rezeki-Nya?
Dan nikahkanlah orang-orang yang membujang di antara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengeahui. (QS An Nur: 32)


Saya teringat ceramah ust Muhammad Fauzil Adhim. Dari sana saya semakin memahami makna ayat tersebut.
Bahwa jika Allah sudah menjamin sesuatu, bukan berarti kita menunggu tanpa berbuat apa-apa.
Allah sudah menjamin rezeki semua makhluk termasuk rezeki orang yang sudah menikah. Bukan berarti duduk saja dan tunggu rezeki itu datang, tapi berusahalah dan jangan takut usahamu tidak akan membuahkan hasil. Sebab sudah ada jaminan dari Allah. Bersemangatlah berusaha, jemput sampai titik akhir dimana pertolongan Allah itu berada, dimana rezeki itu terletak.

Satu hal lagi pencerahan yang saya dapat dari ceramah ust Muhammad Fauzil Adhim adalah tentang memaknai doa.
Contohnya doa "ya Allah, cukupkanlah aku dengan rezeki yang halal dari-Mu sehingga TIDAK BUTUH aku kepada selain-Mu"
beliau mengiringi doa ini dengan cerita kesulitan ekonomi rumah tangga beliau setelah menikah. Beliau menikah saat kuliah dan istrinya juga masih kuliah.
Beliau menjelaskan doa artinya adalah permohonan dan janji.
Jika kamu memohon kepada Allah agar dicukupkan rezekimu, itu artinya kamu sekaligus berjanji akan mencukupkan rezekimu sendiri. Dengan kata lain kamu harus BERUSAHA mencukupkan rezekimu dengan TANGANMU SENDIRI.
Lalu beliau melanjutkan, "Hidup saya pada awal pernikahan, jika diceritakan mungkin cukup membuat air mata menetes. Tapi setelah melalui itu, Allah datangkan rezeki yang membanjir"

Lalu apa yang perlu ditakutkan tentang kesulitan? Sulit tidak sulit, toh pada akhirnya akan dijalani juga. Misalnya koas. Sebelum koas semua pasti berkata koas itu sulit, tapi tetap dijalani, tho?
Skripsi.
Siapa yang bilang skripsi itu tidak sulit? Semua bilang sulit. Tidak ada skripsi yang mudah. Tapi kenapa dijalani?

Sebenarnya ini bukan pernyataan untuk siapa-siapa. Ini adalah pernyataan untuk keluarga saya yang menakut-nakuti saya menikah dengan kesulitan-kesulitan seperti itu. Menakut-nakuti saya kalau menikah saat koas, koas saya keteteran, belum punya pekerjaan tetap, belum lagi perilaku suami yang menyusahkan, dll.

Masih dalam ceramah ust Muhammad Fauzil Adhim, "Hanya orang-orang berjiwa kerdil-lah yang tidak yakin dengan pertolongan Allah. Menyerah pada kesulitan-kesulitan semacam itu. Berputus asa dari rahmat Allah"

Ah, bahasan ini agak keluar topik. Saya tidak berniat membahas ini sebenarnya (di postingan ini). Saya berencana membahasnya di postingan yang lain.

Oke, kembali ke Habibie-Ainun.
Saya ingin mempunyai (dan mengusahakan) pernikahan sekokoh pernikahan mereka.
Saling mencintai karena Allah. Bukan karena cinta itu sendiri. Sebab cinta hanyalah dopamin yang berkeliaran di otak yang sifatnya sementara.
Cinta itu harus punya landasan. Landasan paling kuat adalah cinta pada Allah.
Jika landasannya adalah Allah, cinta itu akan dibangun semakin lama semakin kuat. Kadar cintamu bergantung pada kecintaanmu kepada Allah. Romantismemu bergantung pada ketaatanmu pada Allah.
Allah-lah nanti yang akan me-rezeki-kan cinta itu padamu.
Maka ketahananmu menghadapi semua kesulitan bersumber dari sana.
Seperti Ainun dan Habibie.
Sampai kamu tua pun, cinta itu tetap terasa romantis, meski daya tarik fisik sudah tidak ada lagi. Allah yang mengkaruniakan cinta itu. Hingga kamu pun tetap menjadi pasangan di akhirat.
Maka kamu adalah partner dalam kebaikan. Partner dalam mendekatkan diri pada Allah. Partner dalam menjalani kehidupan dunia ini sedemikian rupa dengan orientasi akhirat sehingga kamu punya bekal yang cukup untuk selamat melampaui kematian. Untuk hidup sesudah mati.

Atau seperti yang seirng saya sebut
Partner dalam ketaatan, menjalani hidup di atas jalan kebenaran menuju Allah swt sehingga saya siap kapanpun kematian menjemput.
Tidak menunggu umur 60 tahun dulu baru mulai memikirkan mau bawa bekal apa untuk mati, tapi mempersiapkannya setiap hari.

No comments:

Post a Comment