Jika kita mengetahui waktu kematian kita semakin dekat seharusnya kita lebih semangat bekerja bukan?
Menjadi orang muda seringkali membuat kita lupa bahwa kematian semakin dekat. Kita sering berpikir, sepertinya kita masih punya banyak waktu di dunia. Kalau sekarang umur 20 tahun, setidaknya adalah sekitar 40 tahun-an lagi.
Meskipun terdengar klise dan retoris, yang jelas kematian itu cepat atau lambat akan datang.
Kalau bukan kematian kita, setidaknya kematian orang-orang terdekat kita.
Untuk orang muda, mungkin kematian masih jauh ya, bagaimana dengan orang tua?
Sekarang umur saya 22 tahun.
Umur umi 56 tahun.
Umur ayah 59 tahun (bulan depan)
Saya tergolong muda dari segi usia. Ayah dan ibu saya sudah tua. Mungkin saya masih punya umur beberapa puluh tahun lagi. Menyadari hal ini, secara tidak sadar saya atau orang-orang seumuran saya menganggap kematian itu masih lama sehingga tidak serius menyambutnya.
Coba situasinya diubah.
Misalnya umur saya sekarang sama seperti umur ayah saya. 59 tahun.
Apa yang saya pikirkan pada umur 59 tahun ini?
Yang jelas, kecil kemungkinan saya akan bertahan hidup beberapa puluh tahun lagi. Kemungkinan hidup saya kira-kira beberapa tahun lagi. Satu tahun lagi saya 60. Mungkin sisa umur saya kurang dari sepuluh tahun lagi. Apa yang saya persiapkan?
Jawabannya: karena waktu saya sudah berlalu 59 tahun, dipotong masa sebelum akil baligh, katakanlah 14 tahun, maka umur saya berbuat dosa kira-kira selama 45 tahun.
Sekarang saya hanya punya beberapa tahun ke depan sebelum menyongsong kematian. Tentu goal utama adalah bagaimana caranya saya bisa melalui kematian ini dengan mudah. Goal selanjutnya bagaiamana caranya timbangan pahala saya di akhirat nanti lebih berat daripada timbangan dosa.
Yang harus saya lakukan adalah: memanfaatkan waktu yang tersisa ini sebaik-baiknya untuk beramal.
Saya juga harus berusaha untuk memanfaatkan momen2 ibadah yang pahalanya besar. Harapannya agar dosa selama 45 tahun ke belakang bisa tertutupi. Intinya, balik lagi ke kalimat awal: semangat bekerja.
Kematian itu niscaya, bukan?
Mari kita balikkan lagi situasinya ke awal. Saya, 22 tahun mempunyai ayah yang berumur 59 tahun yang mungkin punya sisa hidup beberapa tahun lagi. Apa yang saya persiapkan?
Mau tidak mau, sadar tidak sadar saya harus bersiap.
Goal 1: bagaimana caranya ayah saya pergi dengan tersenyum.
Harapannya saat ayah saya pergi tidak ada yang dia sesali tentang saya.
Konsepnya saya ingin melakukan sesuatu yang bermakna untuk ayah saya.
Beberapa diantaranya:
-wisuda
-jadi lulusan terbaik pas koas
-membuatkan ayah rumah
-membelikan ayah sebuah kamar di apartemen
-membiayai ayah naik haji
-membawa ayah jalan-jalan ke luar negeri tempat sisa-sisa peradaban Islam. Turki misalnya
diantara 6 opsi tersebut semua butuh waktu dan proses yang panjang. Yang paling dekat adalah wisuda. Lalu bagaiamana kalau waktu ayah saya lebih awal daripada itu? apa yang bisa saya lakukan?
Ada dua hal sederhana tapi bermakna yang saya kira bisa saya mulai segera dan bisa dilihat hasilnya dalam waktu singkat
1. Membuat al-quran tulisan tangan
2. Menelepon ayah sesering mungkin
3. Berbuat baik terus menerus. Dalam hal apa saja.
4. Mendoakan ayah setiap saat.
Ya, itu yang bisa saya lakukan.
Kematian itu dapat datang kapan saja. Mungkin bulan depan, minggu depan atau bahkan besok. Dalam ketidakpastian, seharusnya kita bekerja lebih semangat bukan?
Meskipun terdengar klise dan retoris, yang jelas kematian itu cepat atau lambat akan datang.
Kalau bukan kematian kita, setidaknya kematian orang-orang terdekat kita.
Untuk orang muda, mungkin kematian masih jauh ya, bagaimana dengan orang tua?
Sekarang umur saya 22 tahun.
Umur umi 56 tahun.
Umur ayah 59 tahun (bulan depan)
Saya tergolong muda dari segi usia. Ayah dan ibu saya sudah tua. Mungkin saya masih punya umur beberapa puluh tahun lagi. Menyadari hal ini, secara tidak sadar saya atau orang-orang seumuran saya menganggap kematian itu masih lama sehingga tidak serius menyambutnya.
Coba situasinya diubah.
Misalnya umur saya sekarang sama seperti umur ayah saya. 59 tahun.
Apa yang saya pikirkan pada umur 59 tahun ini?
Yang jelas, kecil kemungkinan saya akan bertahan hidup beberapa puluh tahun lagi. Kemungkinan hidup saya kira-kira beberapa tahun lagi. Satu tahun lagi saya 60. Mungkin sisa umur saya kurang dari sepuluh tahun lagi. Apa yang saya persiapkan?
Jawabannya: karena waktu saya sudah berlalu 59 tahun, dipotong masa sebelum akil baligh, katakanlah 14 tahun, maka umur saya berbuat dosa kira-kira selama 45 tahun.
Sekarang saya hanya punya beberapa tahun ke depan sebelum menyongsong kematian. Tentu goal utama adalah bagaimana caranya saya bisa melalui kematian ini dengan mudah. Goal selanjutnya bagaiamana caranya timbangan pahala saya di akhirat nanti lebih berat daripada timbangan dosa.
Yang harus saya lakukan adalah: memanfaatkan waktu yang tersisa ini sebaik-baiknya untuk beramal.
Saya juga harus berusaha untuk memanfaatkan momen2 ibadah yang pahalanya besar. Harapannya agar dosa selama 45 tahun ke belakang bisa tertutupi. Intinya, balik lagi ke kalimat awal: semangat bekerja.
Kematian itu niscaya, bukan?
Mari kita balikkan lagi situasinya ke awal. Saya, 22 tahun mempunyai ayah yang berumur 59 tahun yang mungkin punya sisa hidup beberapa tahun lagi. Apa yang saya persiapkan?
Mau tidak mau, sadar tidak sadar saya harus bersiap.
Goal 1: bagaimana caranya ayah saya pergi dengan tersenyum.
Harapannya saat ayah saya pergi tidak ada yang dia sesali tentang saya.
Konsepnya saya ingin melakukan sesuatu yang bermakna untuk ayah saya.
Beberapa diantaranya:
-wisuda
-jadi lulusan terbaik pas koas
-membuatkan ayah rumah
-membelikan ayah sebuah kamar di apartemen
-membiayai ayah naik haji
-membawa ayah jalan-jalan ke luar negeri tempat sisa-sisa peradaban Islam. Turki misalnya
diantara 6 opsi tersebut semua butuh waktu dan proses yang panjang. Yang paling dekat adalah wisuda. Lalu bagaiamana kalau waktu ayah saya lebih awal daripada itu? apa yang bisa saya lakukan?
Ada dua hal sederhana tapi bermakna yang saya kira bisa saya mulai segera dan bisa dilihat hasilnya dalam waktu singkat
1. Membuat al-quran tulisan tangan
2. Menelepon ayah sesering mungkin
3. Berbuat baik terus menerus. Dalam hal apa saja.
4. Mendoakan ayah setiap saat.
Ya, itu yang bisa saya lakukan.
Kematian itu dapat datang kapan saja. Mungkin bulan depan, minggu depan atau bahkan besok. Dalam ketidakpastian, seharusnya kita bekerja lebih semangat bukan?
Pernahkah saya berfikir seperti itu? apa yg sudah saya beri kpd mereka? 😢
ReplyDeletePernahkah saya berfikir seperti itu? apa yg sudah saya beri kpd mereka? 😢
ReplyDelete