Tuesday, May 10, 2011

Everything Happens for a Reason

Kenapa bikin blog?

2 tahun yang lalu alasannya: pengen keren, ikut-ikutan kakakkelas yang punya blog, biar dikomen orang, biar eksis, biar dilihat sebagai penulis, orang yang tulisannya bagus….

Alasan2 itu tidak dikatakan secara ekspilisit memang. Tapi, itulah alasan tersiratnya.

Lalu, bagaimana kabarnya blog itu?

Blog itu hanya bertahan 4 bulan.

Isinya?

Banyak kelebayan, tidak bermutu, melankolis semua, personalisasi diri dan masalah.

Jadi, kesimpulannya?

Sesuatu yang didasari dengan alasan yang tidak penting, hasilnya pun akan GAK PENTING. Tidak bertahan lama.

Sekarang, alasan bikin blog adalah: because I need it. Untuk pelampiasan, since I don’t have time to talk and I don’t have someone to talk to.

Everyone is busy. Time is very limited. No time.

And since I can’t access facebook anymore.

Kenapa harus di blog? Kenapa ga di computer saja?

Tampilan blog yang menarik memberi sedikit semangat untuk menulis. Since, blog is on internet, there is more effort to write something. Tanpa perlu berpikir banyak, atau dengan sengaja melupakan apa yang hendak ditulis (ini kasus kalau mau nulis di komputer)

Alasan berikutnya: untuk menyederhanakan diri, untuk memperbaiki kesalahan di blog yang lalu (misalnya, lebay, melankolis, mempersonalisasi pendapat, masalah atau keadaan, isi tidak berbobot, sok nyastra, dll), untuk evaluasi diri, bahan muhasabah.

Menyederhanakan semua alasan di atas: kenapa saya nulis blog? Untuk teman curhat.

But, there is some ground rules.

1. 1. Blog ini is kept UNPUBLISHED.

Tidak perlu diberitahu ke orang lain. Tidak perlu bikin shoutbox, hias dengan template yang menarik sampai ujung2nya beribet. Lama2, isi tulisan ini jadi kaya blog yang lalu. Sok melankolis, pingin diliat orang, pingin dikagumi orang blablabla.

This is pure for myself. Untuk diri saya sendiri.

Blog ini ga perlu dibaca orang lain, kecuali orang2 nyasar dan orang2 tertentu yang tau inside of my self, tanpa saya harus berlebay-lebay ria karena merasa diperhatikan orang lain. Itu hanya semakin mengelabui diri sendiri. Those people are my family. My brothers, my sisters and (may be) my friends. Yang terakhir sifatnya opsional. Just some friends mean hanya bbrp orang yang juga sangat dekat hingga dia mengerti inside of myself.

2. 2. Sesederhana mungkin. Inilah diri saya apa adanya. Perlu untuk kembali ke titik nol agar bisa memulai perbaikan-perbaikan berikutnya.

No comments:

Post a Comment